Lokakarya Menulis bersama Felix Dass di Jakarta: 27-28 Juli 2018

Di periode akhir tahun 2017 yang lalu, saya gundah. Kondisi industri musik makin meriah, tapi perekamnya tidak nambah-nambah. Pengulas makin sedikit, kalaupun ada paling sebatas postingan Instagram yang tidak banyak berguna ketika dicari-cari beberapa bulan dari kejadian.

Keberadaan media yang makin banyak juga bisa dibilang tidak membantu. Kebanyakan dikejar-kejar deadline dan target menulis. Saya pernah ada di titik itu. Menulis jadi tidak menggairahkan. Gunanya pun geser jauh dari fungsi merekam yang diperlukan oleh industri.

Kegundahan itu, berlangsung beberapa minggu. Tapi, akhirnya malah ketemu solusi dan kepikiran menyambungkannya dengan ide lama yang terpendam. Jadilah, program ini dijalankan di 2018.

Saya akan keliling ke banyak tempat untuk membuat lokakarya menulis. Sebenarnya, ini ada cabang keresahan juga sih. Kenapa bentuk berbaginya lokakarya, karena saya tidak ingin hanya sekedar membagi mimpi lewat serangkaian proses bicara yang tidak praktek. Saya ingin mengajak orang untuk ikut serta menulis. Proses ini tentang peserta, bukan tentang pemateri.

Visi panjangnya untuk menciptakan orang seperti saya di banyak kota di Indonesia. Mereka yang merekam, adalah mereka yang berkontribusi untuk menjaga turun temurunnya informasi. Mengisahkan satu kisah ke kisah lainnya untuk dipelajari, dijadikan inspirasi dan dihindari apabila gagal total.

Kebetulan, ada rekanan yang memercayai ide itu. Saya didukung oleh Siasat Partikelir. Di dua sesi pertama, di Medan dan Jakarta akhir pekan ini, ada kaitannya dengan salah satu festival yang mereka dukung, Folk Music Festival. Rencana berikutnya, mari kita tunggu bersama.

Tapi, untuk Jakarta, lokakarya menulis ini akan terjadi pada 27-28 Juli 2018 di Gedung Aksara, Jalan Kemang Raya, Jakarta Selatan.

Detail waktunya begini:
27 Juli 2018 – 15.00-17.00 WIB
28 Juli 2018 – 10.00-12.00 WIB

Perlu dua sesi karena memang akan melibatkan proses praktek nyata. Saya tidak mengenakan biaya untuk lokakarya ini. Tapi, hanya ada sepuluh kursi. Sengaja tidak ingin dibuat besar supaya bisa fokus dan proses berbaginya bisa hangat.

Ada syaratnya:
1. Kirim email ke seribermaindicikini@gmail.com, sebutkan kenapa kamu mesti jadi salah satu orang yang mengisi sepuluh kursi di lokakarya ini.
2. Kamu harus mendonasikan salah satu buku yang dianggap penting untuk dibaca, ini semacam rekomendasi pribadi. Bukunya boleh bekas atau baru. Kalau bisa, jangan bajakan dan masih layak dibaca.

Tidak ada uang lalu-lalang di antara kita. Semoga barokah. Sampai jumpa di dua sesi ini. Ditunggu emailnya. (pelukislangit)

Jakarta Pusat
23 Juli 2018

Advertisement

Protes Terbuka untuk Penyelenggara A Night at Schouwburg: Kelompok Penerbang Roket

Disclaimer: Tulisan ini tidak bermaksud untuk menyerang band yang tampil. Hanya protes terbuka pada penyelenggara pertunjukan.

Protes ini ditujukan pada penyelenggara A Night at Schouwburg yang menampilkan Kelompok Penerbang Roket di Gedung Kesenian Jakarta pada 17 Desember 2017 mendatang. Ada persoalan besar untuk saya pribadi sebagai penggemar Kelompok Penerbang Roket yang punya keresahan tentang bagaimana penyelenggara pertunjukan ini memperlakukan penggemar yang telah membeli tiket.

Ceritanya, begini.

Tanggal 25 November 2017, pagi hari, saya mendapat informasi lewat Facebook bahwa tiket untuk pertunjukan ini sudah bisa dibeli di Blibli.com.

Beberapa hari sebelumnya, informasi sudah beredar. Waktu itu, belum ada harga tiket dan detail lebih lanjut, hanya keterangan tentang kapan acara dilangsungkan. Dan di pagi 25 November itu, semua informasi dirilis via kanal-kanal sosial media.

Harga tiket ada tiga jenis dengan penjelasan sebagai berikut:

Paket Penerbang Roket
Rp.1.200.000,00
Dapat tiket konser
Dapat piringan hitam album konser
Dapat cd album konser
Dapat kaos long sleeve dengan nama custom

Paket Pencarter Roket 1
Rp.850.000,00
Dapat tiket konser
Dapat piringan hitam album konser
Dapat kaos short sleeve dengan nama custom

Paket Percarter Roket 2
Rp.500.000,00
Dapat tiket konser
Dapat cd album konser

Untuk ukuran sebuah pertunjukan musik, harganya tidak main-main. Tapi karena merupakan seorang penggemar, plus acaranya khusus, ya masuk akal untuk dibelalah. Tiket dijual via Blibli.com yang menyediakan fasilitas pembelian dengan kartu kredit. Saya akhirnya memilih Paket Pencarter Roket 1. Kenapa?

Pertama, bisa dicicil. Sampai dua belas bulan dengan bunga 0%. Karena harganya cukup mahal, ya perlu diakali. Dengan cicilan, rasanya jadi tidak berat. Seperti saya bilang tadi, masih bisa diusahakan.

Kedua, ketika merilis informasi pertunjukan, penyelenggara tidak menyediakan informasi denah duduk untuk pertunjukan nanti. Saya cukup trauma dengan penyelenggaraan pertunjukan sebuah band besar beberapa waktu yang lalu, karena waktu itu pengaturan posisi duduk penonton berantakan. Jadi, saya ambil yang tengah-tengah. Dengan perhitungan bahwa nonton di Gedung Kesenian Jakarta itu adalah pengalaman spesial untuk penonton dimana posisi menentukan kenikmatan menonton.

Dengan memilih kursi kelas tengah, kemungkinannya seimbang; tidak dapat paling jelek dan tidak dapat paling bagus. Jadi, masih aman statusnya. Kebetulan, saya punya posisi favorit di gedung itu dan posisi tersebut bukanlah posisi paling prima.

Ok, tanpa tahu posisi nontonnya di mana, saya membeli tiket itu dengan fasilitas cicilan kartu kredit. Saya gerak cepat karena tidak ingin kehabisan. Plus, saya juga ingin mendukung penyelenggara ini karena idenya bagus.

Transaksi saya selesaikan sore hari dan semuanya berlangsung dengan normal. Tapi siang hari, saya sempat mengirimkan pesan ke salah satu anggota penyelenggara yang kebetulan memang teman. Saya mengkritik sistem kursi mereka yang tidak transparan.

Seolah tidak ada apa-apa dalam beberapa hari setelah pembelian, masalah mulai muncul 28 November 2017. Blibli.com memberikan diskon 15% untuk pembelian tiket karena berkaitan dengan program promosi mereka.

Saya protes pada teman saya yang tadi sudah dikritik itu. Tiga hari yang lalu saya beli dengan harga Rp.850.000,00. Lalu tiga hari kemudian didiskon jadi Rp.722.500,00.

Ball one, kalau main baseball. Salah apa saya? Mau dukung penyelenggara dengan beli cepat-cepat, eh harganya tiba-tiba diturunkan oleh penjual tiketnya.

Ball two juga terjadi di hari yang sama. Denah tempat duduk dirilis. Dan hasilnya di luar dugaan. Kursi terbaik di Gedung Kesenian Jakarta diberikan pada paket paling murah. Lihat detailnya di bawah ini.

Tiket paling mahal diletakkan di posisi paling dekat dengan panggung. Siapapun yang pernah nonton pertunjukan di GKJ biasanya tahu, posisi paling baik adalah di barisan tengah, tidak terlalu ke depan dan tidak terlalu ke belakang. Di bagian yang ada belahannya itu, secara bercanda, dikenal luas sebagai barisan Jokowi. Dalam konteks sekarang tentu saja jadi relevan karena memang itu kursi pejabat. Dan biasanya, kursi pejabat adalah kursi paling baik di sebuah gedung pertunjukan milik negara.

Sistem klaim kursipun ternyata ribet. Ditambah ada proses pengumpulan ukuran kaos dan alamat kirim rekaman ketika jadi nanti.

Pembeli tiket diminta untuk mengirimkan email berisi alamat dan ukuran baju serta nama yang diinginkan untuk dicetak di dalam kaos. Bayangkan, ada dua ratus orang saja melakukan proses itu. Ribet kan? Permintaan mengirimkan email itu sampai dilakukan dua set; pertama tidak mencantumkan nomor identitas, yang kedua mencantumkan identitas.

Ball tiga terjadi beberapa hari kemudian. Tiba-tiba, saya punya agenda yang tidak bisa dihindari di kota lain. Saya tidak bisa menghadiri pertunjukan. Saya kemudian mengontak Blibli.com via fasilitas chat mereka untuk menanyakan apakah tiket bisa dipindahtangankan pada adik saya yang juga menggemari Kelompok Penerbang Roket.

Jawabannya tidak bisa. Patah hati. Bingung. Di tanda terima pembelian harus membawa bukti asli identitas pemilik akun. Sementara di halaman penjualan di situs, ditulis bisa diklaim selama membawa copy identitas pemilik akun. Jadi, mana yang benar? Copy identitas bermasalah? Atau harus bawa yang asli?

Tapi ya bisa apa? Akhirnya saya berusaha berdamai dengan diri sendiri meski ada fakta yang membuat saya gagal menyaksikan pertunjukan ini. Minimal bisa mendengarkan hasilnya lewat piringan hitam yang sudah masuk paket itu.

Lalu, harbolnas datang. Hari ini –ketika tulisan ini mulai ditulis—, 12 Desember 2017, keluar promo tiket Paket Pencarter Roket 2 seharga Rp.150.000,00. Katanya, diskon khusus harbolnas. Paket itu spesifikasinya hanya akses untuk nonton pertunjukan. Tidak termasuk cd seperti harga normal.

Meledak dalam artian emosi. Ini ball empat yang artinya bola mati dan tidak bisa ditolerir lagi. Kalau memang sudah tahu sedari awal ada pilihan harga tiket khusus untuk nonton pertunjukan tanpa dapat rekaman atau kaos, bisa jadi saya akan membelinya. Kenapa?

Pertama, karena murah. Jadi, tidak perlu mencicil. Kaos dan CD atau piringan hitam, bisa belakangan. Peristiwa pertunjukan lebih penting untuk saya. Toh, kalau ada pilihan ini, dengan hanya membeli tiket, saya juga masih bisa setia dengan ide untuk mendukung penyelenggara pertunjukan dan band yang saya sukai.

Kedua, karena kursinya bagus. Ini dengan asumsi sudah melihat denah penomoran kursi, sesuatu yang tidak saya dapatkan ketika membeli tiket.

Ketika mengkonfrontasi ini pada teman yang penyelenggara itu, ia meminta saya untuk berpikir positif bahwa diskon harbolnas ini untuk memfasilitasi penggemar Kelompok Penerbang Roket yang kurang mampu. Dengan tiket harga diskon ini, mereka terbantu.

Saya membalas, “Kalau memang mau memfasilitasi orang, ya jangan jual tiket harga semahal itu dong. Saya kalau tahu ada tiket harga murah, plus tahu kalau itu bisa nonton di kursi Jokowi, ya saya akan beli tiket itu.”

Saya menginformasikan bahwa saya juga menggunakan fasilitas cicilan 0% dari Blibli.com untuk membeli membeli tiket pertunjukan yang ia selenggarakan. Itu indikator paling jelas bahwa tiketnya mahal. Ketika ada fasilitas cicilan yang membuat orang tidak membayar sekaligus, ya sudah pasti diambil.

Dalam kasus ini, saya bukan orang yang punya budget untuk membeli tiket pertunjukan yang tiba-tiba diumumkan dengan harga yang cukup mahal semudah membalikan telapak tangan. Ada penghargaan dan dukungan yang coba diarahkan pada ide bagus mereka membuat pertunjukan di gedung-gedung pertunjukan milik negara.

Untuk saya pribadi, akhirnya jadi persoalan jadi perlu digugat. Menurut saya: penyelenggara tidak berpihak pada penggemar. Pertunjukan belum dimulai, saya sudah diombang-ambingkan serangkaian fakta:

1. Harga tiket mahal
2. Harga tiket yang berubah menjadi lebih murah karena ada program diskon Blibli.com
3. Fakta bahwa jadwal bentrok, tiket belum jelas bisa pindah tangan atau tidak
4. Harga tiket diobral karena ada penawaran spesial Harbolnas di Blibli.com

Pikiran saya sih langsung arahnya jelas: Ini penyelenggara bisa jadi tidak paham rasanya menjadi penggemar yang ingin menonton pertunjukan band. Agak berseberangan dengan beberapa publikasi yang mengklaim bahwa bahwa seri ini ditujukan untuk menyebarluaskan karya bagus. Tapi, karya bagus, tidak pernah bisa jadi sempurna bagusnya kalau tidak ada campur tangan penggemar. Yang menonton siapa kalau tidak ada penggemar?

Lengkapnya begini:

Dalam kejadian yang saya alami, penyelenggara dengan berbagai macam ide mulianya, melupakan sebuah hal mendasar: Bahwa penggemar selalu menjadi tulang punggung aktivitas bermusik.

Penggemar adalah target operasi yang punya kemampuan mengusahakan banyak cara untuk mendukung band yang disukai. Berkilah bahwa penyelenggara hanya mengikuti kebijakan Blibli.com dengan dua kali memberikan diskon spesial, merupakan sebuah keputusan yang menunjukan bahwa mereka sama sekali tidak berpihak pada penggemar. Lawan saja kebijakannya, bisa kok pasti.

Itu pelanggaran besar. Bagaimana mau mengamalkan ide mulia itu? Wong bagian dasar saja tidak bisa dikelola dengan baik.

Sponsor bisa datang dan pergi. Kalau kebijakan korporat mereka berubah, besok mereka juga bisa tidak peduli lagi dengan apa yang dilakukan. Penggemar? Mau Kelompok Penerbang Roket menghasilkan album jelek dua puluh tahun dari sekarang, bisa jadi tetap digemari. Bisa jadi juga, pertunjukan-pertunjukannya tetap diberi perhatian dan disambangi.

Ini pelajaran penting, bahwa masih banyak pelaku industri yang tidak paham dengan baik bahwa penggemar adalah darah yang mengaliri seluruh hasrat mereka untuk berkarya. Saya protes, karena penyelenggara tidak sensitif dan peduli pada mereka yang sudah mau berusaha untuk menyaksikan pertunjukan ini.

Lalu, apa yang saya mau?

Kita main saja dengan tata cara yang wajar; bisnis jangan gitu-gitu amatlah. Jangan main-main dengan harga tiket. Yang fair-fair saja. Bagaimanapun juga scene independen ini dibangun oleh kepercayaan kan?

Masa depan ada untuk diperbaiki. Walaupun akan berpikir ulang ketika membeli tiket pertunjukan si penyelenggara ini di masa depan, mungkin akan ada kesempatan mereka untuk mampir lagi ke dalam hidup saya sebagai penggemar.

Titip pesan: Sponsor itu partner, bukan atasan. Mau tahu mana atasan sebenarnya? Penggemar. (pelukislangit)

002: Perpustakaan

Romantisme muncul ketika dua kaki melangkah dari gedung tua menuju gedung baru di bagian belakangnya. Tangga-tangga disusun untuk menjadi jembatan dari perasaan klasik ke megah. Ini perpustakaan yang baru diresmikan, di dalamnya ada masa depan dan banyak kemungkinan baru.

Karenanya, Jakarta bisa berdiri sama tinggi dengan banyak kota dunia; ada simbol literasi yang menjejak dengan kokoh.

Dua puluh empat lantai yang bisa dikunjungi menampung banyak sekali buku (dan sejumlah materi audio visual) dan tentunya berbagai kepentingan. Letaknya di pusat kota, di deretan balaikota, menambah gurih kenyataan.

Ada tempat untuk menulis, meneliti, membaca dan meretas banyak kemungkinan yang berkaitan dengan ruang. Gedung yang megah itu, punya auditorium yang cantik. Ia juga punya banyak sekali ruang untuk duduk dan mengambil jeda dari keseharian yang sumpek.

Keberadaannya membuka harapan. Literasi bisa mengembara ke banyak cabang program yang meninggalkan banyak jejak memori.

Tentu, kalau menganggap ini sebagai sebuah keberhasilan, itu salah. Ini seharusnya hanya sebagai awalan untuk pembangunan tradisi yang lebih berkelanjutan nantinya.

Di dalamnya, masih ada sistem yang kikuk; misalnya untuk perkara pembuatan kartu anggota yang memaksa orang untuk antri panjang.

Bisa diakali dengan pendaftaran online. Hanya saja, keberadaan kartu fisik, harus ditebus dengan masuk dalam antrian foto itu. Kalau tidak ingin kartu, bisa menyebutkan nomor anggota yang didapat dari pendaftaran online itu.

Seperti layaknya sebuah awal, ada harapan digantungkan. Sepertinya, yang ini bisa membuat Jakarta lebih baik. Yang paling penting: Ia menyediakan pemandangan cantik untuk melihat simbol kota sekaligus mengingatkan bahwa kita semua sedang berada di salah satu kota paling penting di dunia. (pelukislangit)

Jalan Sabang
27 Oktober 2017
20.22

001: Orang-Orang Terbaik

Manusia Jakarta beroperasi pada level improvisasi yang besar. Semua hal yang sudah direncanakan sejak jauh hari, bisa saja berubah di menit-menit terakhir karena kondisi eksternal yang terjadi di depan mata. Misalnya saja, perasaan malas untuk beranjak dari rumah. Sudah kadung nyaman, makanya enggan pergi melangkahkan kaki keluar.

Perasaan malas itu, toh tidak selamanya jelek. Mengubah rencana, pun kadang tidak melulu merugikan. Karena hidup di kota ini begitu dinamis, perubahan yang sifatnya mendadak pasti bisa ditolerir. Karenanya, bisa jadi malah sebaliknya, ada malam panjang yang terekam dengan baik. Disusupi oleh banyak tertawaan dan keluh kesah penanda rindu yang perlu dituntaskan. Kalau itu terjadi, Jakarta perlu dituding sebagai rumah yang indah.

Orang-orang terbaik bisa datang karena urusan apapun, sesederhana untuk duduk di lantai dan mengumbar cerita. Satu demi satu menuju arah yang sama. Tidak masalah jika kemudian perkara konsumsi hanya bertemankan nasi bebek atau minuman yang diisi bongkahan es batu yang dibeli di warung pinggir rel.

Biaya besar, tidak pernah mampir ke dalam kamus interaksi model begini. Yang paling mahal, bisa jadi niat. Dan itu tidak pernah bisa ditukar dengan apapun.

Latar belakang hiburan pun bisa macam-macam; siaran langsung Moto GP, pertandingan Persib Bandung yang ditinggal penonton setianya atau bahkan potongan berita Metro TV yang membahas Tora Sudiro dan urusan dumolitnya. Hal-hal yang disebut itu, semuanya berbiaya rendah.

Orang-orang terbaik itu yang mahal. Oh, ada satu lagi, gelas sloki dari tur Tuan Bruce ini, juga mahal. Mereka, orang-orang terbaik dan gelas sloki itu, cocok; bahan baku penting untuk menghadirkan kehangatan di udara kota yang lembab dan peliket. (pelukislangit)

Rumah Benhil 2
6 Agustus 2017
23.14

Tentang Astrid Leoni Jonatan, Willem Keemink, Raymundus Gifford, Heriyanti Pratiwi, Sani Adinugraha dan Kitty Manu.

Calo

Salah satu yang tidak pernah bisa dipandang sebelah mata dalam bisnis hiburan adalah calo. Kadang menyebalkan, kadang super berguna. Yang lebih seru dan tidak boleh dilupakan, yang kita punya di Indonesia, sesungguhnya diimpor dari kebiasaan yang ada di barat.

Inggris pun dunia percaloannya tidak kalah menarik. Bahkan untuk sekedar diperbincangkan. Di Liverpool Sound City 2017, ada satu bahasan menarik di sesi conferencenya. Judulnya Power to the People. Summary progamnya bisa dilihat di sini. Kalau ingin lebih jauh tentang isu ini, silakan dilanjutkan proses mencarinya. Ada banyak sumber di internet.

Intinya, keberadaan secondary market di pasar musik Inggris –Tulisan ini kemudian bisa berkembang konteksnya ke negara lain—, selalu jadi usikan yang signifikan untuk diperhatikan. Secondary market ini kasarnya adalah situs jual ulang. Semacam forum di Kaskus yang isinya pihak-pihak yang punya tiket lebih lalu menjual kembali kepada mereka yang membutuhkan. Kenapa pihak-pihak, karena memang ini kebanyakan juga bukan perorangan; bukan mereka yang membeli tiket lalu tidak jadi menggunakannya atau yang dengan sengaja membeli tiket untuk kemudian menjual lagi. Kebanyakan adalah perusahaan, celakanya dimiliki oleh situs-situs penjual tiket.

Praktek percaloan dijalankan.

Isu ini berlangsung bertahun-tahun. Di beberapa pertunjukan, yang sistematis begini hidup terus seiring perkembangan teknologi. Calo-calo yang bertebaran di jalan juga masih banyak sebenarnya, tapi itu dinamika sendiri.

Keberadaan calo dengan teknologi yang difasilitasi oleh secondary market itu, sebenarnya punya dua sisi mata uang; bisa baik, bisa juga buruk.

Saya pertama kali menggunakannya ketika membeli tiket pertunjukan Bruce Springsteen di Auckland, Selandia Baru. Ketika saya memutuskan untuk nonton, status pertunjukannya sudah sold out. Padahal, mainnya kelas stadion. Kapasitas yang banyak, tentu saja menyisakan banyak peluang tiket beredar di secondary market. Saya membeli tiket di Viagogo. Nama yang tertera di tiket adalah nama latin. Orangnya tidak bertemu dengan saya. Secondary market menjamin bahwa tiket bisa digunakan. Jadi, bisa dipercaya.

Dari situ, saya menyadari bahwa bisnis ini ada dan punya peluang ekonomi yang sangat besar. Bisa juga disambungkan dengan kasus yang pernah terjadi dengan Pearl Jam, ketika mereka bertengkar dengan Ticketmaster di pertengahan 90-an. Tidak langsung begitu, tapi ada dimensi konfliknya yang beririsan.

Dari diskusi itu, ada satu fakta yang seru; bahwa sebenarnya secondary market itu bisa dikendalikan atau bahkan dihilangkan sekalian. Glastonbury Festival adalah contoh penting yang secara politis bisa jalan dengan sukses menghilangkan peran secondary market. Orang yang datang ke festival ini bisa sekitar 200.000 orang. Tapi, nyaris tidak ada tiket yang beredar di secondary market. Bukan apa, ketika beli saja, sudah dimintai bukti foto nama yang bersangkutan. Tidak ada ruang untuk dijual kembali karena verifikasinya personal.

Informasi tentang bagaimana Glastonbury Festival memperjuangkan penerapan perlawanan terhadap secondary market, bisa dicek di artikel ini atau ini. Salah satunya berasal dari tahun 2007, berarti upayanya sudah lama toh?

Kalau ada keinginan politis untuk melawan, pasti bisa. Tapi memang ada investasi teknologi yang dilakukan. Dengan ukuran penonton yang segitu banyak, biayanya jadi masuk. Tidak semuanya ingin secondary market ini dilawan. Kebanyakan, memilih untuk tutup mata.

Konsumen, punya pilihan untuk bersikap. Menurut saya, tergantung obyektifnya apa, mau nonton band favoritnya atau ya secara fanatik menikmati perlawanan yang dilakukan organiser yang sebenarnya masih sedikit sepenuh hati untuk memberantas. Ya, bisa dimengerti, wong yang besar-besar itu sahamnya juga dimiliki oleh mereka-mereka itu juga.

Lantas, apa yang enak untuk konsumen? Sepanjang perjalanan ini, saya tiga kali membuktikannya; Saint Etienne dan The Stone Roses di London serta Southside Johnny and the Asbury Jukes di Amsterdam.

Sebelum lebih jauh, jadi ide dasar dari secondary market itu adalah menjual ulang tiket dengan harga pasar. Tentu, berbeda dari harga aslinya. Bisa lebih murah atau lebih mahal. Lebih murah? Calo kok lebih murah?

Jadi begini, stok tiket kadang banyak. Istilahnya kalau di percaloan dalam negeri, banjir. Tiket yang banjir ini ujung-ujungnya membuat perusahaan rugi. Jadi, diobral. Bagaimana cara menemukannya?

Cari saja informasinya di situs secondary market. Kalau harganya tidak jauh dari harga dasar, bisa jadi tiketnya banjir. Coba dipantau dalam beberapa hari. Kalau masih ada, ya berarti banjir. Jangan takut dengan iming-iming yang memberi tahu bahwa stok tiket sudah terbatas dan ada banyak antrian di dalam pembelian. Itu kebanyakan palsu. Memang dibuat untuk menyegerakan konsumen membeli tiket. Kadang, kalau terburu-buru cenderung bisa ditipu.

Kalau di Inggris, bisa juga mengecek situs fans to fans model Twickets. Ia bisa dijadikan referensi. Di Twickets, yang tersambung jelas; penggemar ke penggemar. Jadi, tidak anonymous.

Oh iya, ingat juga bahwa ada fee tambahan dari harga yang tersaji. Jadi, harus cek benar-benar sampai proses terakhir untuk mengetahui berapa total. Yah, namanya orang cari makan, wajarlah diputar-putar. Banyak akalnya. Yang jelas, level ketulusannya tidak semurni yang menjual resmi.

Saya kasih contoh.

Untuk Saint Etienne, saya menonton mereka main di Royal Festival Hall. Tiket aslinya berharga sekitar 30 pounds. Sampai beberapa hari menjelang pertunjukan, masih bisa didapat di situs resmi venue. Jadi, tidak laku.

Lalu, saya memantau Viagogo. Harganya makin turun dari hari ke hari. Akhirnya saya membeli tiket dengan harga dasar 5 pounds. Setelah pajak dan biaya macam-macam, akhirnya saya mendapatkan deal total 13 pounds. Ok kan? Kursinya paling atas. Tapi, masa nonton band dance duduk diam?

Di lagu keempat atau kelima, orang mulai berdiri dan bebas untuk merapat ke pinggir panggung. Akhirnya, jadi beginilah pemandangannya. Bayangkan, dengan tiket murah, ini bisa terjadi. Good deal kan?

Yang kedua, The Stone Roses. Pertunjukan dimainkan di Wembley Stadium. Kapasitasnya puluhan ribu. Tapi tiket bertebaran di Twickets dan Viagogo. Tanda-tanda over supply sudah terasa. Tunggu saja sampai hari H. Malah bisa memilih.

Saya membeli tiket beberapa jam sebelum hari pertunjukan. Bisa memilih tribun yang enak, tidak paling bawah tapi bisa melihat lurus ke panggung. Pertunjukan di Wembley Stadium itu openingnya banyak. Jadi, memang lebih enak duduk. Harga yang saya bayar 30 pounds total. Harga aslinya sekitar 60 atau 70 pounds. Setengah harga.

Tribun paling bawah juga banyak yang kosong. Padahal, tiket pertunjukan ini kabarnya sold out. Kebayang kan berarti over supplynya seperti apa. Ya itu tiketnya ada di secondary market semuanya. Bukan di tangan fans.

Ngomong-ngomong, The Stone Roses itu, setiap musim panas tur. Yah, maksimal sepuluh pertunjukan. Dan ukurannya harus stadion. Jadi, memang potensi tiket banjir gede. Yang tahun ini, minat fansnya sudah berkurang drastis. Wong, setiap tahun main. Konon katanya, bayaran mereka super besar.

Ini nuansa pertunjukan musik di Wembley Stadium.

Lalu, setelah berhasil dua kali, pengalaman ketika muncul di Amsterdam. Kebayang kan sistematisnya? Di tulisan ini saja, setidaknya saya sudah menulis tiga negara sebagai latar belakang ceritanya. Kalau iseng, coba deh cek berapa harga tiket Ed Sheeran di Jakarta. Ada kok. Kejam aja harganya.

Kembali ke Amsterdam. Di sebuah malam minggu, Southside Johnny and the Asbury Jukes main. Band ini, ada di gengnya Bruce Springsteen and the E Street Band. Jadi, sangat kulit putih Amerika, mustahil bisa main di Asia. Sama saja kasusnya kenapa harus memburu Bruce Springsteen and the E Street Band sampai ke New Zealand.

Southside Johnny and the Asbury Jukes ini tidak terkenal amat. Tapi posisinya penting. Bruce Springsteen dan Stevie van Zandt tercatat pernah ikut rekaman. Jadi, dia kecil. Tapi sangat penting untuk orang-orang berstatus dewa itu. Amsterdam sendiri ternyata, setelah ditelusuri di internet, lumayan sering dikunjungi. Setidaknya, tiga-empat tahun sekali, mereka mampir ke sini.

Peminat banyak, tapi ya tidak lantas membuat tiket sulit didapatkan. Mereka bermain di Paradiso, salah satu venue musik paling ok di Amsterdam. Lagi-lagi, merupakan bekas gereja yang diubah fungsinya. Walau masih menyisakan tulisan Soli Deo Gratia di latar belakang tembok belakang panggungnya. Kalimat itu artinya kurang lebih kejayaan untuk tuhan. Jargon-jargon model begitu, biasa ditemukan di tembok-tembok gereja.

Satu yang selalu spesial dari alih fungsi gereja adalah tetap mempertahankan sisi akustiknya. Jadi, memang cocok untuk pertunjukan musik. Paradiso punya tiga lantai, panggung ada di lantai paling dasar tapi orang bisa naik ke lantai dua dan tiga untuk menyaksikannya. Kapasitasnya mungkin sekitar dua ribu orang kalau seluruh lantainya terisi penuh.

Dengan strategi yang sama, akhirnya tiket terjun bebas H-1. Ya sudah, saya beli saja. Yang menarik, di tagihan kartu kredit, keluarnya dalam mata uang Swedish Kroner. Berarti, si pemilik tiket (siapapun dia), posisinya di dalam yurisdiksi Swedia. Ajaib kan praktek percaloan ini? Lintas negara sudah.

Menarik kan melihat bagaimana praktek percaloan dijalankan? Menurut saya, anti-anti banget juga susah karena ini sudah ada sejak dahulu kala. Kalau mau mengambil posisi yang super jelas melawan, ya sekalian jangan tanggung seperti contoh Glastonbury Festival tadi. Tapi, ya selamat siap-siap juga dengan konsekuensinya.

Kebanyakan dari kita kan debu di tengah industri besar yang kadang-kadang kejam ini. Jadi, dipergunakan saja sebaiknya bagaimana. Dengan tidak mendukung percaloan juga kadang-kadang tidak lantas jadi mendukung langsung si penyelenggara. Wong si penyelenggara juga bisa jadi pelaku percaloan kok. Haha.

Kalau di Indonesia, ada rumor yang tidak pernah bisa dibantah sekaligus dipastikan keabsahannya; calo –yang sering kita lihat melakukan bisnis di pertunjukan-pertunjukan besar, mungkin juga kecil— adalah pasar bawah bagi penyelenggara untuk melempar tiket yang tidak terjual habis. Tapi, itu konon loh ya. Haha. (pelukislangit)

Amsterdam de Meer
26-27 Juni 2017

Memberi Nyawa pada Ruang

Setiap jengkal sisi DIY Space for London (DSFL) memberikan inspirasi luar biasa pada pemanfaatan ruang. Ia tidak bombastis, tidak canggih. Masih dikendalikan dengan nilai-nilai luhur kehidupan bernama hati nurani.

Memberi nyawa pada ruang tidak pernah mudah. Apalagi menjalankannya dengan kolektivitas tanpa perlu mengedepankan kepentingan personal. Ada banyak ruang alternatif mampir ke dalam kisah saya. Ada yang ok, ada yang sudah bisa diduga penuh kepentingan atau bahkan dirasa tidak bakalan berumur lama sejak pertama kali melihatnya. Tapi yang ini, benar-benar meninggalkan kesan di hati.

Di sebuah hari Minggu, saya dan Wok the Rock mengagendakan untuk datang ke Decolonize Fest, festival punk of colours (POC) di London. Festivalnya tiga hari, tapi jadwal kami hanya memungkinkan untuk datang di hari terakhir.

Di hari ketiga, hanya ada agenda band-bandan. Tidak ada diskusi. Tadinya juga ada piknik di taman, tapi kami terlambat datang.

Mencari DSFL tidaklah mudah. Letaknya di satu sudut kota yang tidak begitu populer. Walau sebenarnya dekat dengan The Den, kandang Millwall FC, klub sepakbola paling rusuh di Inggris Raya. Daerahnya menghadirkan ketegangan tersendiri. Bisa jadi karena asing. Ada banyak pendatang yang tinggal di daerah itu. Lumayan anomali isi penghuninya.

Buat Wowok, kunjungan hari itu adalah perjalanan kedua. Sebelumnya, ia sudah melihat sebuah pertunjukan kecil di situ bersama Andreas Siagian, kawan yang lain. Jadi, ia sudah familiar dengan gedung itu. Ia menjelaskan banyak hal tentang DSFL dari kunjungan pertamanya. Saya membeli idenya, makanya dengan mudah langsung memutuskan untuk mengunjunginya untuk mengisi agenda sebuah minggu.

Untuk pengantar dan membaca manifestonya, silakan cek situs mereka di sini.

DSFL pada dasarnya merupakan sebuah ruang alternatif yang menampung berbagai macam kegiatan anggotanya. Iya, ini klub dengan biaya keanggotaan tahunan. Murah, hanya 2 Poundsterling per tahun. Uang itu dianggap sebagai mahar untuk membantu tempat ini hidup. Yang bisa datang ke perhelatan yang digelar hanya anggota dan temannya. Jadi, setiap pengunjung baru memang diharapkan untuk mendaftar menjadi anggota.

Oh iya, walaupun sudah menjadi anggota, orang musti membayar tiket masuk untuk mengikuti acara yang sedang berlangsung. Jadi, membayar tiket masuk dan biaya keanggotaan tahunan merupakan dua hal berbeda. Tiket masuk dialokasikan untuk talent yang bermain, sementara biaya keanggotaan masuk untuk si ruang.

Ruang ini benar-benar membuka pintu mereka untuk banyak kemungkinan dan irisan orang. Hari itu, kami datang untuk festival yang 95% pengisi acaranya adalah POC. Festivalnya memang ditujukan untuk kampanye orang-orang itu. Lalu, di bagian pintu masuk ada sebuah toko rekaman yang menjual beraneka ragam album dalam berbagai bentuk; kaset, cd dan vinyl. Si penjualnya menggunakan pin bertuliskan British Railways, bukan National Railways –namanya sekarang—. Menurutnya, ia adalah seorang nasionalis. Yang menginginkan Inggris dijalankan dengan cara Inggris, bukan penuh kompromi yang seperti sekarang. Tentu, sambil tidak melintasi batas superioritas ras.

Mereka, bisa berdampingan. Dan itu menarik.

Di DSFL juga ada manifesto. Bisa dilihat sendiri di bawah ini.

Jadi, memang tempat ini dibangun atas berbagai macam kepercayaan. Satu yang pasti, kolektivitas diperlukan untuk menjalankan segala macam kegiatannya.

Selain toko rekaman, DSFL juga memegang sendiri pengusahaan bir dan minuman lainnya. Mereka menjualnya dengan harga yang sangat masuk akal. Satu pint bir kaleng Red Stripe, misalnya. Dijual hanya dengan 2.5 Poundsterling. Untuk ukuran London dan masuk di dalam bar, harga itu luar biasa murah. Untungnya sedikit, karena memang keinginannya untuk memenuhi kebutuhan minum pengunjung. Kalaupun ingin membuat untung, paling sedikit. Dan itu langsung digunakan untuk menghidupi tempat.

Sistem tugas juga volunteering. Masing-masing anggota, bisa dengan mudah memberikan kontribusi mereka untuk menjadi sukarelawan. Misalnya saja di suatu masa menjadi penjaga tiket, lalu di saat berikutnya menjadi pedagang merchandise. Atau kalau yang punya kemampuan spesifik, bisa menjadi sound engineer atau ya bartender seperti tadi.

Satu yang paling penting dan sangat terasa adalah, orang-orang di sini percaya untuk menghidupi tempat ini. Jadi, tidak transaksional hubungan satu dan lainnya. Kalau misalnya ada keluhan, mereka bisa dengan mudah untuk datang ke pertemuan mingguan dan langsung mengusulkan ide apa yang bisa diimplementasikan untuk memperbaiki ruang itu.

Tidak menggunakan email, tidak menggunakan whatsapp group. Jadi, datang sumbang saran lewat buah pikiran yang dikeluarkan dalam bentuk suara dari mulut dan dicatat. Kemudian dirundingkan. Jadi, komunikasinya terjadi di satu tempat, tidak multi tafsir dan cenderung tidak politikal karena salurannya sudah diciptakan. Kalau tidak bisa datang ke waktu yang telah disepakati bersama, ya jangan memberikan usul.

Idenya mungkin utopis, tapi tempat ini telah berjalan selama dua tahun. Dan masih akan terus berjalan. Ia hidup dari kontribusi orang-orang yang menjadi anggota.

Lalu, masih berhubungan dengan kepercayaan, barang-barang yang ada di sana semuanya dipergunakan untuk kepentingan bersama.

“Aku perhatiin deh, semua tulisan atau flyers yang nempel di sini, punya makna. Semuanya emang benar-benar ditujukan supaya tempat ini jalan. Kalau kamu macam-macam, ya kamu akan kehilangan kepercayaan dari orang. Ya, selesai kamu,” ucap Wowok sedikit menganalisa. Yang ia bilang, benar.

Misalnya saja, ada kursi milik bersama yang dibawa pulang saja, berarti ya pencurian itu dengan sendirinya menukar kepercayaan yang sudah diberikan secara kolektif ke si pelaku. Dan itu nilainya baru berasa di masa yang akan datang. Ketika kepercayaan hilang dari tangan, ya berarti selesai juga kisah di DSFL.

Bicara program, tempat ini juga punya banyak variasi. Tidak hanya musik, tapi juga memutar film, diskusi dan sejumlah hal menarik lainnya. Jadi, tidak ada fokus massa di satu bidang seni. Semuanya diberikan hak untuk berkarya.

Menarik ya? Saya jadi berpikir keras, kalau di Jakarta, jalan nggak ya? (pelukislangit)

Wilhelminaplantsoen
9 Juni 2017
18.51

Ini ada bonus si Wok the Rock jadi model.

Ada Musik di Gereja

Pintu gereja dibuka. Bukan sebagai tempat keagamaan, tapi sebagai ruang yang menyerahkan tubuhnya untuk menyaksikan musik diperdengarkan kepada orang banyak. Setiap babak ditutup dengan tepuk tangan.

Siang itu, saya pertama kali masuk ke Union Chapel, sebuah gereja tua yang juga populer sebagai venue pertunjukan di London. Beberapa band terkenal dan populer pernah main di sini. Coba cek hasil pencarian gambar ini. Atau pencarian video yang ini. Gerejanya sendiri masih berfungsi menggelar kebaktian dan melayani umat.

Ruangannya magis. Saya datang untuk memenuhi undangan Stuart Bruce, seorang Inggris yang kembali ke kampung halamannya setelah tinggal bertahun-tahun di Indonesia. Kami berteman karena musik. Mumpung masih di London dan tanggalnya cocok, ia mengajak saya untuk melihat seri Daylight Music. Di sana, ia jadi pekerja amal yang membantu acara berlangsung.

Daylight Music sudah digelar ratusan kali. Tidak perlu band ternama datang unjuk gigi. Yang dikandung, biasanya mereka yang baru meretas karir atau sedang dalam tur independen di Inggris. Saya datang tanpa ekspektasi. Stu –panggilan akrab Stuart— sudah menjual menunya terlebih dulu. Dan nama Union Chapel sendiri sudah menarik.

“Kalau bandnya jelek, yang penting saya sudah pernah menyaksikan musik di venue bagus inilah,” ucap saya dalam hati. Jadi, ekspektasi memang dimatikan. Hadapi saja apa yang ada di depan mata.

Pengunjung yang datang, tidak dipungut biaya. Tapi dianjurkan –bisa menolak dan tidak memberi— untuk melakukan donasi. Nantinya donasi akan dibagi ke seluruh band yang main. Unsur swadaya ini ada di depan.

Begitu juga dengan penjualan produk. Band yang main berhak untuk menjual produk mereka di meja merchandise. Penonton dibiasakan untuk melihat dulu band yang main untuk kemudian memberi support –yang bisa juga berarti pengganti biaya tiket— dengan membeli merchandise yang tersedia. Bentuknya pun menarik, ada yang jualan produk standar seperti cd dan kaos serta plat, ada juga yang jualan selai.

Pada dasarnya, kalau ingin mengembalikan modal produksi atau bahkan mendapatkan honorarium, masing-masing band diminta untuk berusaha sendiri dengan bantuan tenaga penjual di booth merchandise. Itu berarti, penampilan mereka perlu meninggalkan kesan di hati penonton.

Union Chapel sendiri punya kapasitas ratusan orang. “Di musim dingin minimal bisa enam ratus orang yang datang,” kata Stu. Hari itu, hanya sekitar dua ratus orang yang datang. Ruangan nampak kosong.

Tapi kemudian, saya terpekur sendiri. Bangsa Inggris bisa memberdayakan gereja untuk perayaan budaya populer. Gerejanya sendiri, tidak kehilangan kesakralannya. Misalnya, tempat ini tetap punya bar dan tempat makan, tapi diletakkan di gedung yang berbeda. Tidak boleh minum minuman beralkohol di gereja.

Yang dibela adalah fakta bahwa Union Chapel merupakan representasi dari gedung-gedung dari masa lalu bangsa itu yang memiliki kualitas akustik yang sangat baik. Budaya dan agama, ternyata bisa disusun berdampingan. Pemberdayaan ruang menjadi satu faktor penting yang perlu dicatat.

Hasilnya, saya punya siang yang sangat menyenangkan. Takjub dengan bagaimana ruang bisa memberi nyawa pada musik yang dimainkan. (pelukislangit)

Amsterdam, 8 Juni 2017
13.20 – Menunggu Kamboja vs. Indonesia

Buat Aleks

Tulisan ini diselesaikan di salah satu sudut Soho, di Lexington Street, London. Saya sedang berada di salah satu kota paling mahal di muka bumi ini. Buat seorang penulis, duduk di satu sudut yang sibuk dan melihat kehidupan berjalan dengan wajah yang paling kosmopolitan, adalah sebuah berkah.

Tapi seharian ini, pikiran saya ada di rumah. Di Jakarta.

Saya berpikir tentang kawan baik saya, Aleks Kowalski. Pagi tadi, ia mengalami kecelakaan yang cukup fatal di Jakarta. Ia sedang dalam perjalanan ke Bandara Soekarno-Hatta.

Kami berbicara via whatsapp hari Selasa kemarin. Aleks mengecek, kapan saya pulang ke Jakarta. Karena ia rindu Kedai Tjikini, katanya. Sekaligus, meminta saya untuk mencatat hal-hal menarik yang ditemui di London. Katanya, ia mau ke kota ini beberapa bulan mendatang.

Belakangan, kami memang intens berkomunikasi. Saya (dan Kedai Tjikini), beberapa kali menjadi jeda untuk pekerjaan barunya di Jakarta yang memakan energi cukup besar.

Kalau bertemu di Kedai Tjikini, pasti sesinya panjang. Bisa berjam-jam. Kadang juga, Dharmawan Handonowarih, teman kami –yang Aleks sangat sukai karakternya— duduk bersama. Mereka dipersatukan akan minat yang sama pada gedung-gedung tua dan pemanfaatan yang mungkin dilakukan tanpa mengubah bentuk.

Bulan Mei kemarin, sebelum saya bertolak pergi ke eropa, kami bertemu, menghabiskan jam-jam yang panjang, mengabaikan beberapa urusan lain. Lalu, malam ditutup dengan makan super malam di Nasi Uduk Kota Intan Jalan Samanhudi.

Kebanyakan obrolannya ngalor-ngidul. Kalau diminta untuk menceritakan apa yang kami obrolkan waktu itu, saya tidak bisa. Karena memang tidak ingat apa-apa. Pembicaraan yang dilakukan kebanyakan tidak punya tendensi apa-apa. Jadi, berlalu begitu saja.

Kata Pramoedya Ananta Toer di Bukan Pasar Malam, “Mengobrol adalah suatu pekerjaan yang tak membosankan, menyenangkan dan biasanya panjang-panjang.”

Begitulah beberapa sesi obrolan kami beberapa bulan belakangan ini terjadi. Kemarin selasa, kami berbincang tentang sebuah ide yang akan diterapkan di Folk Music Festival 2017, festival musik yang ia kerjakan dengan dedikasi besar beberapa tahun terakhir. Kami tidak mendapatkan kesepakatan ide, terbentur budget.

Ia juga beberapa kali memaksa saya untuk mengajak Ruth, partner saya ikut dalam rombongan AriReda ke festivalnya. Kebetulan, kami memang disambungkan oleh kenyataan yang aneh; ternyata istrinya dan Ruth teman sekolah dulu.

Dan tadi pagi, kabar itu datang. Sangat tidak menyenangkan, terlebih ketika mengetahui bahwa dia sekarang terbaring di rumah sakit yang letaknya dekat dengan tempat tinggal saya. Juga tempat saya dilahirkan dulu.

Dharmawan sudah melaporkan keadaannya. Ia datang segera begitu mengetahui posisinya ada di mana. Ada segudang harapan untuk recovery yang cepat. Banyak yang mengirimkannya secara simultan.

Ini buat Aleks. Sesuatu untuk dibaca ketika dia siuman sepenuhnya nanti. Lekas cespleng, mase. Situ ditunggu London. (pelukislangit)

Soho, London
2 Juni 2017
17.29
Buat Aleks

Dari Inggris

Sudah terbukti dan teruji: Yang namanya keinginan itu bisa jadi kenyataan. Bahkan ketika ia pelan-pelan sudah dilupakan dan diletakkan di dalam kepingan memori yang jauh dari permukaan.

Saya ingat peristiwa itu: Di kantor FFWD Records, Bandung. Kejadiannya sekitar pertengahan 2000-an. Kalau tidak salah 2006. British Council pada waktu itu menyelenggarakan International Young Creative Entrepreneur, sebuah program yang memang menjaring orang-orang kreatif di berbagai belahan dunia untuk digabungkan dalam satu network besar, salah satu sub bahasannya adalah musik.

Achmad Marin, bos saya di FFWD Records waktu itu, ikut terjaring. Ia pergi ke Inggris Raya dan membuka jaringan.

Diam-diam, saya memendam keinginan untuk mendapatkan kesempatan yang sama. Waktu itu, mimpi saya kendaraannya Ballads of the Cliche. Sembari bekerja di FFWD Records, saya juga menjadi manajer band itu. Bukan Inggris Rayanya yang menarik perhatian, tapi keinginan untuk membuka mata lebar bagaimana industri musik dijalankan dan bisa menampung banyak kemungkinan. Tidak hanya yang besar, tapi menjadi yang kecil pun perlu diperjuangkan.

Titik tolaknya berbeda. Menjadi independen di Inggris Raya adalah sesuatu yang bisa dijalani lengkap dengan infrastruktur yang menunjang. Bukan hanya semangat fana, tapi juga bisa dijejaki dengan baik karena memang sudah ada pagar untuk membuat permainan itu berlangsung dengan baik. Berlangsung dengan baik, tentu saja bisa diartikan sebagai hidup yang dipilih.

Waktu itu, program tersebut punya koridor usia. Usia saya masih panjang untuk tetap eligible di sana. Keinginan dipancang.

Tapi kemudian, hidup berbelok. Ada prioritas penting yang kemudian menyeruak; pulang ke Jakarta. Saya rindu rumah, karenanya hidup di Bandung perlu ditutup. Saya berpisah dengan FFWD Records dan program British Council itu perlahan hilang. Ada banyak hal bisa terjadi di dalamnya. Singkat kata, keinginan itu terlupakan.

Saya menjalani hidup normal, mencoba berbagai macam hal baru, keliling ke banyak tempat di dunia dan kemudian mencatat banyak kisah baru. Hingga kemudian sesuatu memanggil untuk mendedikasikan hidup untuk scene musik independen. Kejadiannya dimulai tahun 2015. Ada ekspansi baru yang dilakukan.

Jika sebelumnya saya hanya menulis tentang musik, maka sekarang daya jangkaunya dibuat lebih lebar; serius menggeluti bisnis merchandise musik, menjadi konsultan konten untuk sebuah kanal musik dan –ini yang terpenting— mengorganisir pertunjukan musik. Kendati yang terakhir itu bukan hal yang baru.

Dulu, saya merupakan salah satu orang yang menginisiasi We Are Pop!, seri independen di pelataran Hey Folks! di Jalan Bumi. Di sana, saya belajar banyak tentang kesungguhan yang tidak transaksional untuk menjalankan proses bersenang-senang bernama musik. Fondasi saya sekarang, tentang pengorganisasian musik, salah satunya ya ditajamkan karena pengalaman itu. Selain tentunya bagian di Kolese Gonzaga dan Fisip Unpar.

Nah, sejak 2015 itu, segala sesuatunya jadi lebih serius; Silampukau di Kedai Tjikini, SORE, Polka Wars, Mocca as Comma, Future Folk 1 dan 2 di IFI Jakarta serta Seri Bermain di Cikini. Nama yang terakhir, merupakan mainan utama saya sekarang. Dan itulah pula yang membawa saya masuk radar British Council Indonesia.

Mulai beraktivitas dengan intensitas yang meningkat bersama kawan-kawan di ruangrupa pun perlu dicatat. Berbagai macam dimensi pengorganisasian acara di sana, membuat saya belajar. Yang paling penting adalah obrolan super panjang di sebuah malam –yang berakhir dengan makan bubur ayam di pagi hari— dengan Indra Ameng, tentang pengorganisasian acara dan segala tetek bengeknya.

Jalannya panjang.

Tidak pernah terasa ketika dijalankan. Saya selalu berpikir bahwa segala macam yang tertulis di atas itu harus dijalankan dengan senang-senang. Tidak perlu tekanan berlebihan yang membuat alis mata mengernyit, tidur tidak nyenyak atau bahkan pusing tidak jelas karena hitungan angka. Semua yang pernah datang ke acaranya Seri Bermain di Cikini pasti paham bahwa santai adalah salah satu DNA utama yang ada di sana. Bahkan ketika kami dimaki orang karena isu double seating pun, saya dan sejumlah teman tetap berusaha santai.

Prinsip saya sederhana: Orang datang ke pertunjukan musik kan ingin bersenang-senang, apapun motifnya. Lantas, kenapa perlu memberi tekanan berlebihan pada keadaan yang seharusnya punya mood menyenangkan tadi?

Dua tahun terakhir ini berlangsung dengan sangat menyenangkan. Untuk saya yang membuat dan semoga untuk mereka yang mau terlibat di dalamnya.

Kekuatan musik menjadi hal penting yang selalu perlu dibela. Puncaknya, adalah Cikini Folk Festival 2016. Saya berlagak gila; menginisiasi festival dengan dua belas penampil yang semuanya percaya pada ide festival ini yang mengedepankan kesederhanaan dan bersenang-senang tadi. Dari kapasitas yang ‘hanya’ 240 orang, kami hanya berhasil menjual 160 tiket. Hanya ada satu sponsor penggarapan video dan memberikan sedikit uang tambahan.

Hitungan: Sudah pasti merugi.

Tapi untung, bulan itu, saya banyak rejeki dari tempat lain. Jadi, yah, anggap saja itu bagian memberi dari apa yang saya dapatkan secara umum. Sianying, jadi riya. Haha.

Yang paling penting, bukan perkara hitungan. Tapi seluruh energi yang ada di festival itu. Orang-orang yang ada di sana adalah mereka yang percaya bahwa scene independen itu perlu dihidupi; yang main tidak mencharge ongkos honorarium yang tinggi, yang datang mau membayar tiket dan semuanya mendapatkan malam yang menyenangkan.

Ada tenggang rasa di sana. Memang, masih ada perkara transaksional, tapi semuanya membawa keinginan untuk berkompromi ke dalam persoalan. Jadinya, semua kepentingan bertemu.

Misi dasar dari berbagai macam hal yang saya ceritakan di atas adalah membawa kesadaran bahwa ada hal mendasar dari seluruh hal besar yang terjadi di sekeliling kita.

Dan misi itu ingin disebarkan ke seluruh orang dengan berbagai macam peran yang mereka mainkan.

Misalnya saja untuk penonton, saya ingin menghadirkan pengalaman menonton di gedung-gedung pertunjukan atau venue-venue yang segala sesuatunya bisa disulap menjadi sebuah ruang untuk mempertontonkan musik.

Atau dari kacamata musisi, mereka bisa mendapatkan kesempatan untuk bertukar energi dengan mereka yang benar-benar ingin menyaksikan mereka main. Bukan dalam perkara commisioned work –baca: dibayar normal dan menghasilkan rejeki ideal untuk seluruh orang— tapi dalam urusan mengenal lebih dalam siapa yang mendengarkan musik mereka. Pertunjukan-pertunjukan yang intim itu, selalu menarik untuk dijalani. Walaupun tidak bisa bermain musik, tapi beberapa kali saya berada dalam posisi band –sebagai manajer, seringkali sekarang terjadi bersama AriReda— yang bertemu dengan para pendengar yang penuh tenaga dan hasrat. Seringkali pula mengirimkan energi yang tidak bisa ditakar kadarnya kepada mereka yang main. Sehingga malam-malam ajaib tercipta.

Semua rangkaian kejadian itu menjadi lingkaran yang saling mengikat simpul-simpulnya. Ia bertalian dan jadi sebab akibat kenapa saya menulis tulisan ini dari Inggris Raya. British Council menangkap seluruh upaya yang dilakukan kemarin itu dan mereka memutuskan untuk mengundang saya melakukan sejumlah kunjungan yang akan menambah referensi.

Jalannya aneh kan? Mengingat kejadian pertama di atas tadi, rasanya saya jadi merinding. Memang, alam raya ini tidak pernah diam merancang apa yang perlu terjadi atas manusia. Pakai disusun secara personal lagi. Masing-masing punya cerita menarik.

Saya diberi kesempatan untuk menghadiri dua buah festival yang berbeda tipe; satu showcase festival, satu lagi festival biasa. Keduanya beda tujuan. Kalau showcase festival, tujuannya untuk pamer aksi, tapi dipirit durasinya. Tujuannya untuk orang-orang industri. Sementara yang festival biasa, ya festival musik biasa saja. Hanya, ada sesi konferensi yang sangat seru untuk diikuti.

Kalau mendetail, rasanya harus ke situs British Council Indonesia saja nanti. Saya berjanji untuk menulis secara detail bagaimana kesan atas dua festival yang dikunjungi. Oh iya, yang showcase festival namanya The Great Escape, yang festival biasa namanya Liverpool Sound City.

Tulisan ini diselesaikan di salah satu kota favorit saya di dunia, Liverpool. Kali ini, saya mencoba untuk tinggal di wilayah residensial dan sedikit lebih panjang tinggal. Ingin merasakan kehidupan biasa yang jauh dari riuh rendah city center dan menyelesaikan proyek menulis yang memang perlu diselesaikan.

Musik membawa saya keliling ke banyak tempat dan melintasi banyak kemungkinan. Yang paling ‘menyebalkan’, ia selalu bisa menghadirkan cerita-cerita menyenangkan seperti ini. Sekaligus menjawab, bahwa keberanian meninggalkan kehidupan korporat yang nyaman ternyata bisa dibela. Menjadi independen dan mengerjakan apa yang disuka, bisa dijalani. Selama berani juga bertanggung jawab.

Tidak sabar untuk membagi hal-hal menyenangkan yang saya alami di Inggris Raya tahun ini. Terima kasih sudah membaca. Saya berhutang pada mereka yang percaya pada ide-ide yang dijalani bersama itu. (pelukislangit)

London/ Brighton/ Liverpool
19-29 Mei 2017

Pinggir Jalan Sebuah Kota Putih

Saya sedang duduk di sebuah kedai kopi di sudut Queen Street, jalan utama di Central Business District (CBD) Auckland, salah satu kota penting Selandia Baru. Ini kunjungan kedua dalam setahun belakangan.

img_9123

Ada bentangan waktu yang tidak main-main, Auckland maju enam jam dari waktu Jakarta. Analoginya persis seperti pergi ke Eropa, tapi kebalik. Jika biasanya mundur, ini maju. Kalau di Auckland pukul dua belas siang, berarti di Jakarta masih pukul enam pagi.

img_9002

img_8993

img_8955

Kali ini, kunjungan saya hanya empat malam, tidak lebih. Agenda utamanya menonton pertunjukan Bruce Springsteen di rangkaian Summer ’17 Tour-nya. Bruce Springsteen adalah salah satu pahlawan musikal saya. Musiknya sangat orang putih, termasuk konflik-konflik yang disajikan dalam lirik-liriknya. Dan ukuran pertunjukannya sangatlah besar, kelas stadion. Sulit untuk melihatnya main di Asia karena bentukan musik yang seperti itu. Maka, ketika mendapat kabar bahwa ia main di Australia dan Selandia Baru, saya merasa harus pergi.

Pilihan untuk Auckland diambil secara logis. Saya punya visa negara ini yang hidup sampai 2018. Jadi, bisa melenggang dengan baik tanpa perlu repot-repot lagi mengurus ijin masuk. Sementara, kalau Australia, harus mengurus dulu. Visa saya mati dan tidak pernah diperpanjang sejak 2014 rasanya.

img_9101

Plus, Selandia Baru lebih menyenangkan ketimbang Australia. Itu faktor utamanya. Orang-orang di sini, sangat santai. Lebih kalem, lebih manusia dan setara. Tapi, itu alasan personal sih. Tidak begitu penting untuk orang banyak.

Karena hanya ingin menyaksikan pertunjukan musik, maka saya memang tidak punya rencana banyak. Tadinya mau ke Wellington, tapi malas karena tidak ingin perjalanan ini terburu-buru jadinya. Kebetulan pula, dapat kesempatan untuk mengatur ulang perjalanan karena perubahan jadwal. Jadi, rencana pergi sepuluh hari diperpendek menjadi tujuh hari saja. Lengkap dengan perjalanan pulang-pergi yang makan waktu sehari masing-masing.

Kebetulan, pekan ini, ada rencana nonton pertunjukan musik lainnya di Singapura; Explosions in the Sky. Jadi, kalau bisa dihemat waktu dan dijalankan berturutan, kenapa tidak?

Keputusannya adalah mencoba bertahan dengan jam biologis Indonesia, tidak mengikuti perbedaan waktu. Resikonya: Bangun siang dan punya sistem tubuh yang berantakan. Jetlag itu menyebalkan. Saya bukan orang yang handal berurusan dengan tantangan alam model begini.

img_9049

Dalam satu perbincangan panjang dengan yang terkasih beberapa hari lalu, ada satu fakta menyenangkan yang rasanya akan tinggal permanen di dalam diri saya; Menyadari kepentingan perjalanan dan tidak ingin memaksimalkan waktu untuk hal-hal yang tidak begitu perlu.

Alasannya: sebuah tempat selalu bisa dikunjungi di masa yang akan datang. Keberanian untuk menyimpan pikiran positif ini, sebenarnya mampu membawa saya menjelajah ke banyak tempat di muka bumi ini. Bukan perkara kaya secara finansial, tapi ada di waktu dan ruang yang tepat.

Waktu dan ruang yang tepat adalah: punya visa, punya kartu kredit yang lengkap fasilitas cicilan 0%-nya, visi melihat dunia, mengejar keinginan selagi bisa serta tidak kebanyakan mikir; mau pergi, ya pergi saja.

img_8961

Orang Indonesia itu, sebenarnya beruntung. Kebanyakan dari kita, melakukan perjalanan keluar negeri pertama ke Singapura. Negara itu mahal. Coba hitung, di luar biaya tiket, berapa biaya hidup yang diperlukan untuk sebuah perjalanan ke Singapura. Biaya yang tidak dalam budget ketat ya, yang normal-normal saja. Kalau bisa memenuhi kebutuhan yang model begitu, mau pergi ke sisi dunia yang manapun, pasti bisa.

Ongkos terbesar di Selandia Baru, misalnya, adalah tempat tinggal dan transportasi. Mungkin makan di restoran bisa disebut juga mahal. Tapi, selalu ada cara untuk mengakalinya. Jalan kaki di pusat kota sangat mungkin, lalu makan bisa masak dengan fasilitas hostel. Tinggal, ya jangan cari hotel, tinggal saja di backpacker’s place. Memang, masing-masing orang punya preferensinya masing-masing, tapi paradigma standar bisa berlaku dengan baik kok.

Uang bisa dicari dan disederhanakan perannya. Toh, selamanya, ia akan hanya menjadi barang substitusi. Kamu tidak perlu kaya raya untuk bisa menjelajah.

img_9016

Yang ada di depan mata saya ketika tulisan ini diselesaikan juga mewahnya bukan main: Ada di simpangan salah satu penanda kota dan duduk melihat mobil lalu-lalang. Saya membuka komputer, mengerjakan tulisan tentang Homicide dan mengisi situs pribadi. Bersenang-senang.

Dua cangkir kopi menjadi teman. Ongkosnya mirip seperti minum kopi di kedai di Jakarta. Barangkali, Jakarta juga lebih mahal sedikit. Relatif sih. Tapi, masih ok kok.

Pengalaman, memang ada untuk dikumpulkan. Kemudian diceritakan.

img_9122

img_9107

Ngomong-ngomong, saya suka sekali dengan Selandia Baru. Mungkin sepanjang hidup akan belasan kali ke sini. Mungkin juga, ingin hidup di sini. Seperti biasa, tidak tahu kemana masa depan akan membawa saya. (pelukislangit)

Remedy Coffee, Auckland
27 February 2017
15.18