Album penuh perhitungan Denisa

Salah satu hal yang paling saya nantikan di 2021 ini adalah dirilisnya debut album penuh Denisa, penyanyi asal Jakarta. Sejak mendengarkan EP Crowning di 2019, intuisi saya mengendalikan rasa ketertarikan yang berlebihan pada karya-karyanya.

Menjelaskan intuisi selalu tidak pernah mudah. Tapi, karakter vokal dan sinyal kencang fuck you attitude yang dikandung oleh karya-karya di EP itu, memanggil untuk menyemai ketertarikan.

Pada 15 Oktober 2021, album penuh bloodbuzz –ditulis dengan huruf kecil semua, memang—, dirilis. Dua tahun sejak perkenalan pertama itu, perasaannya masih sama. Hari itu, hidup berjalan cepat. Saya bangun pagi dan langsung mencari album ini di streaming service yang dimiliki. Saya sudah jadi korban strategi marketing yang memang telah berlangsung sejak beberapa hari sebelumnya.

Layaknya artis musik di era super keras ini, Denisa pun memproduksi banyak sekali konten untuk bisa mencuri perhatian orang. Termasuk pula agenda-agenda macam wawancara di sana-sini, hearing session, kirim-kirim paket ke orang-orang yang dianggap berpengaruh dan mungkin ide-ide lain yang bisa disaksikan via internet setelah tanggal rilis berlalu.

Tanggal rilis adalah perayaan gempita yang umurnya cepat. Tapi, apakah setelahnya karya benar-benar didengar? Atau langsung ditelan oleh mereka yang punya status baru di kemudian hari? Itu adalah dua pertanyaan yang selalu menarik untuk dicari tahu jawabnya bagi artis di era ini.

Termasuk juga menyetel cara sebagai pendengar untuk merespon fenomena ini. Untuk Denisa, saya memilih pendekatan yang lebih tradisional, yang beruntung menempel di dalam diri; mendengarkannya setelah bangun tidur lalu mengontak orang distribusi labelnya untuk menanyakan apakah saya bisa membeli cdnya di toko hari ini juga. Kemudian melakukan interaksi lebih jauh dengan produknya lewat transaksi pembelian kaos album ini.

Anyway, satu disclaimer penting: Sebisa mungkin saya selalu menolak pemberian rekaman fisik gratis. Apalagi yang mengharapkan untuk bantu dipromosikan karena satu dan lain hal. Jika kemudian saya mempromosikan sesuatu di ranah personal, penyebabnya hanya dua: Suka sama rekamannya atau dibayar. Tidak ada yang abu-abu. Seringkali penyebab pertama yang terjadi.

Prinsip itu menjelaskan kenapa lebih baik membeli ketimbang menerima gratisan. Lebih baik tidak jadi eksklusif. Karena lantas tidak punya beban untuk tidak jujur sama diri sendiri. Kalau albumnya jelek, anggap saja biaya. Kalau albumnya bagus, ya disyukuri dan memang jadi ongkos untuk menikmati musik itu sendiri.

Album bloodbuzz sudah punya dua single yang dirilis duluan; You Are Not My Savior dan Get It Together. Di dua lagu ini, Denisa menunjukkan keunggulan penting dalam penulisan lagu yang memang ia kembangkan dengan sangat baik.

Tuhan dibawa-bawa untuk ikut serta di lagu terakhir yang barusan saya sebut. Tanpa tedeng aling-aling, langsung diajak masuk di baris pertama. Tapi, cobalah cek dengan seksama lagu itu tentang apa. Gocekannya mantap, sudut pandang yang dipilih untuk bercerita luas.

Lalu, sebuah pop song rawan putar ulang yang disebut pertama, Denisa meletakkan kredo berbunyi, “You can’t die from loneliness…” yang sesungguhnya tidak perlu penjelasan lebih panjang lagi.

Album bloodbuzz menunjukkan bahwa berkembang adalah fase seru yang selalu hadir dalam kisah artis. Buat apa ada di titik yang sama dan tidak bergerak ke depan, ke halaman yang baru?

Di cerita Denisa yang baru memulai karir, eksplorasinya sangat-sangat-sangat menarik. Tips: Coba deh dengarkan secara kronologis karya-karyanya mulai dari single-single awalnya. Musiknya lumayan variatif dalam urusan eksekusi.

Di lagu J-Street bisa sangat groovy dengan kocokan gitar yang renyah, sampler tebal yang konsisten dan bisa bikin joget-joget kecil. Tapi sebaliknya, lagu penutup (Un)comfortably Alone bisa dreamy dengan layer gitar macam-macam dan memberi ruang bagi vokal penuh karakternya menonjol menyanyikan larik-larik cerita pahit yang ia tulis.

Sepertinya, dia memupuk banyak sekali referensi teknis dari perpustakaan lagu digital besar yang ada di genggaman. Plus lagi, yang bersangkutan punya latar belakang teknis produksi, yang otomatis bisa juga membawa cara berpikirnya langsung masuk ke balik dapur tempat karya dimasak.

Dari segi modal sosial, ia juga ideal; pernah bekerja bersama dengan Double Deer Music dan sekarang dengan deMajors Music. Keduanya pelaku industri dengan gaya bisnis yang beda. Belum lagi irisan dengan berbagai macam faksi musik di Jakarta yang secara langsung maupun tidak, juga membawanya pada seliweran informasi yang beredar (tentang apapun).

Tidak buru-buru juga penting, fakta bahwa album ini keluar setelah beberapa tahun berkeliaran sebagai artis, adalah penunjang penting yang menunjukkan kalau semua akan indah pada waktunya.

Kembali ke penulisan lagu, Denisa bisa menciptakan kombinasi yang baik dari bahan bakar emosional cerita, referensi musik, kemampuan produksi serta logika pemasaran internet. Kategori masakannya sudah aman.

Alur lagu dari satu lagu ke lagu berikutnya enak. Terasa sekali logika mendengarkan album dari depan sampai belakang diperhitungkan. Biasanya, pemahaman ini keluar dari jam terbang tinggi mendengarkan karya orang sebagai bagian dari publik, bukan seniman yang memproduksi karya. Termasuk juga meletakkan lagu penutup yang punya kesan megah; memberi ruang main-main dengan aransemen dan jadi penghabisan di mana level energi statusnya tinggal sisa.

Perlu dicatat pula bahwa sebagian besar lagu-lagu di bloodbuzz ditulis dan juga diproduseri bersama dengan Rayhan Noor dari Glaskaca/ Lomba Sihir. Buat saya, selain Lafa Pratomo, ia merupakan salah satu produser musik paling bernas yang dimiliki Jakarta. Karakternya kuat dan ada jejak-jejak khas yang selalu ditinggalkan, misalnya saja seperti kocokan gitar yang bisa dengan mudah dikenali di J-Street tadi.

Selain Rayhan Noor, lagu-lagu di bloodbuzz juga diproduseri sendiri oleh Denisa, Baskara Putra, Johanes Abiyoso dan Kevin Valeryan. Jangan heran kalau di tahun-tahun mendatang, dua nama terakhir akan makin sering ditemui di produksi rekaman di sekitar kita.

Sejak mendengarkan bloodbuzz pertama kali, sampai tulisan ini selesai dikerjakan, saya mungkin sudah lebih dari tiga puluh kali putar secara penuh dari depan sampai belakang.

Ini jadi pembuktian. Kita pasti bisa menyepakati bahwa mendengarkan satu album secara lengkap dari depan sampai belakang, dewasa ini, bukan merupakan persoalan yang mudah untuk dilakukan? Godaan untuk dengan gampang melewatkan bagian-bagian tertentu di dalam sebuah rekaman kan sudah begitu vulgar untuk menantang di depan mata. Jadi, menyelesaikannya sesuai dengan urutan merupakan sebuah keberhasilan yang patut dicatat.

Sangat mungkin, kalau dalam kasus saya, mendengarkan album ini dari depan ke belakang menjadi cocok untuk dilakukan karena kandungan ceritanya yang sesungguh-sungguhnya gelap. Caranya memotret sebuah peristiwa, sebenarnya memberi pandangan yang tidak biasa. Denisa jelas, bukan orang pertama yang merayakan kesedihan. Ia juga bukan orang yang pertama yang berhasil mengubah serangkaian kisah tidak terang jadi keindahan. Tapi, Denisa sedang meneruskan tradisi manusia untuk merekam keseharian yang tidak baik-baik saja. Itu yang perlu dirayakan dengan gegap gempita.

Lagu favorit Get It Together, (Un)comfortably Alone, You Are Not My Savior dan Ben.

Selamat datang (lagi-lagi-lagi), selamat membuka halaman yang baru, Denisa! (*)

Bendungan Hilir dan Bintaro
15-21 Oktober 2021

006: Majalah Hai Katro

Sebagai seorang penulis, lembaga yang pertama kali memberikan saya ilmu menulis adalah Majalah Hai. Pengalaman itu datang tahun 1999, ketika duduk di bangku kelas dua SMA. Sepanjang 1999-2000, saya direkrut menjadi seorang reporter magang di Majalah Hai. Program reporter magang itu dimaksudkan untuk membawa majalah pria remaja itu dekat dengan pasar yang dituju.

Di Majalah Hai, saya mendapatkan asupan gizi ilmu yang benar-benar paten. Praktek standar jurnalistik diajarkan. Etika profesi diberikan. Menjadi penulis, adalah sebuah pengalaman yang berjalan. Felix Dass yang menulis ini, adalah produk Majalah Hai.

Saya tidak sendiri, saya tidak spesial. Ada banyak sekali penulis di luar sana yang punya jalan kurang lebih mirip. Majalah Hai adalah dasar bagi banyak orang yang menjadikan menulis jalan hidup mereka.

Di beberapa kesempatan, saya selalu bangga bahwa bilang walaupun sebentar, tapi ilmu jurnalistik saya didapat lewat majalah itu. Dipanggil menulis untuk Majalah Hai pun dengan senang hati, tidak pernah tanya akan dibayar atau tidak. Hutang budinya besar. Tulisan ini, juga dirasa-rasa adalah upaya untuk bayar hutang budi itu.

Ini protes terbuka untuk Majalah Hai yang katro.

Kata katro tidak bisa ditemukan di dalam KBBI, tapi ia bisa dirasakan maknanya. Nggak kerenlah.

Drama musik terbaru di Indonesia adalah pelintiran dunia maya yang menyerang kelompok Feast dan Baskara Putra/ Hindia, vokalisnya. Disclaimer: Saya tidak mau masuk ke substansi persoalan yang membelit mereka. Jadi, kita tidak akan membahas itu.

Layaknya drama dunia maya, akan ada massa yang terbelah; membela A dan membela B. Ini bisa besar, bisa begitu-begitu saja atau malah nggak ada artinya dan menguap begitu saja. Fenomena drama dunia maya ini terjadi nyaris setiap hari. Di alam dunia maya Indonesia, setiap bangun pagi, coba deh buka Twitter. Pasti akan ada satu hal baru yang sifatnya drama mampir ke dalam hidupmu. Jadi, biasa saja.

Yang biasa juga adalah kelakuan banyak wartawan media massa online yang merekam drama tersebut dan mengubahnya menjadi materi berita. Sekedar informasi, kebanyakan wartawan media massa online itu, sekarang diminta untuk menulis dengan target tulisan. Misalnya, wartawan musik di media A itu sehari harus setor sekian berita. Wartawan politik di media B, sehari harus setor sekian berita. Jadi, bukan lagi menunggu berita untuk kemudian dikabarkan pada publik, tapi membuat berita untuk disajikan pada orang lain.

Fakta itu adalah peluru bagi media massa online untuk bisa berjaya dengan punya katalog berita yang banyak dan lebih cepat ketimbang pesaingnya. Mereka adu lari, adu cari perhatian publik yang celakanya juga berkarakter cinta drama.

Di dalam modus operandi yang seperti itu, tentu saja akan terjadi banyak sekali distorsi kualitas produksi. Karena, yang penting cepat dan menarik untuk orang. Proses penggalian berita, standar operasi jurnalistik, kesediaan narasumber untuk dikutip, dll, dengan sendirinya terpinggirkan.

Celaka dua belasnya, hari ini, 25 April 2020, Majalah Hai, almamater saya, melakukan pelanggaran produksi yang menjijikkan.

Menggunakan kata menjijikkan adalah pilihan yang sulit. Harus mikir, setidaknya setengah menit untuk tidak menghapusnya.

Sepanjang hari ini, Majalah Hai merilis lima buah artikel yang berkaitan dengan isu Feast.

Hari Jumat, 24 April 2020, mereka mengunggah ulang video Instagram TV yang dirilis oleh Feast. Video aslinya diunggah oleh band itu pada 23 April 2020. Isinya dimodifikasi lagi, diberi framing khas postingan Instagram Majalah Hai.

Lalu, secara simultan, pada Sabtu, 25 April 2020, Majalah Hai memuat lima buah artikel tentang isu yang sama. Ya, tidak tanggung-tanggung, lima buah artikel!

Tiga ditulis oleh penulis Bagas Rahadian dan dua ditulis oleh editor Alvin Bahar.

Ini link tulisan pertama editor Alvin Bahar, diunggah pukul 08.00 WIB:
https://hai.grid.id/read/072121852/stevi-item-harusnya-feast-nggak-usah-klarifikasi-sekalian-songong-aja-nggak-usah-tanggung

Ini yang kedua, diunggah pukul 10.00 WIB:
https://hai.grid.id/read/072121873/apa-yang-salah-dari-pernyataan-feast-lagu-peradaban-lebih-keras-dari-lagu-metal-manapun-yang-kami-dengar

Dan ini link tulisan pertama penulis Bagas Rahadian, diunggah pukul 13.17 WIB:
https://hai.grid.id/read/072122420/andyan-gorust-hellcrust-komentari-feast-jangan-ngejek-genre-lain-bermusik-aja-sesuai-passion

Tulisan kedua, diunggah pukul 14.54 WIB:
https://hai.grid.id/read/072122446/masih-di-bully-soal-lagu-peradaban-ini-saran-eben-burgerkill-untuk-feast

Tulisan ketiga, diunggah pukul 16.00 WIB:
https://hai.grid.id/read/072122211/dari-eben-burgerkill-hingga-stevi-item-deadsquad-begini-opini-para-musisi-metal-indonesia-terkait-polemik-feast?page=all

Yang kacau, lima artikel itu, semuanya bersumber pada komentar yang diberikan via postingan Instagram oleh masing-masing Stevi Item, Andyan Gorust dan Eben Burgerkill.

Jadi, komentar Instagram, discreencapture, lalu dijadikan berita. Mantap ya?

Saya melihat modus operandinya saja sudah pusing. Makanya, kata menjijikkan itu pantas diarahkan pada Majalah Hai.

Mengkritik rumah tempat kamu belajar bernapas itu, sesungguhnya tidaklah mudah. Tapi, kalau kebangetan begini, ya haruslah protes. Tidak pernah berani saya membayangkan sebelumnya bahwa media anak muda yang punya nama harum di tengah bangsa ini, bisa melakukan perbuatan jurnalistik yang keji itu.

Cari berita dengan kecepatan yang tinggi dan mendapatkan perhatian publik yang besar, sah-sah saja. Namanya juga praktek bisnis yang harus memuaskan kepentingan pemilik. Atau, namanya juga dikejar target. Tapi, ya jangan gini-gini amatlah. Masa itu dua belas jam bombardir lima berita diputer-puter terus? Bahannya nyolong lagi. Buat sendiri juga nggak.

Semoga, tulisan ini sampai ke pemimpin redaksi. Saya yakin, jika disajikan fakta seperti ini, bukan saya saja alumni yang keberatan dengan praktek jurnalistik Majalah Hai hari ini.

Zaman memang terus akan berganti, tapi ada satu yang selalu perlu untuk dibela dan dihormati; kredibilitas.

Hari ini, kredibilitas Majalah Hai berantakan buat saya. Dan menemukan rumah yang kamu begitu sayang jadi katro, itu patah hatinya minta ampun. (*)

Sektor Sembilan
25 April 2020, 19.06
Seluruh screencapture diambil dari halaman media sosial Majalah Hai

005: Babi Tumis Terong

Babi dipotong kecil-kecil, kurang lebih 100 gram
Terong bulet dua buah, masing-masing dipotong jadi delapan
Kecap ikan pakai feeling
Jeruk limau diambil perasannya
Cabe besar dipotong kecil-kecil
Daun bawang
Bawang merah mentah buat finishing
Bawang merah mentah terus dimasak
Bawang putih digeprek
Timun dingin
Nasi panas

Masaknya, yang keras masuk duluan
Kalau bisa, bikin tetangga ngiri (*)

Rumah, 6 April 2020
20.12

004: Megap-Megap

Sudah beberapa hari ini, ada isu yang terus dibahas dengan Raymundus Gifford, salah satu teman terbaik saya yang sehari-hari bekerja di bisnis makanan.

Karena orang dihantui ketakutan dan diimbuhi himbauan untuk diam di rumah, salah satu yang merasakan dampak langsung adalah bisnis makanan. Mulai dari bisnis independen hingga retail besar terpukul.

Ada yang tulus menggunakan angle memilih tutup karena mengutamakan keselamatan, ada yang terpaksa tutup tapi masih mengingkari bisnis buruk jadi ikut-ikutan menggunakan alasan ini, ada juga yang bilang terbuka bahwa tutup adalah pilihan yang baik. Macam-macam pendekatan yang bisa digunakan. Tapi toh, kenyataannya, bisnis buruk.

Yang mencoba bertahan juga tidak sedikit, ada yang mengarahkan bisnis dengan mengurangi jam dan membuka kanal pesan-antar dan pesan lewat aplikasi. Ada yang mendadak bisnis versi setengah matang makanan mereka sehingga orang bisa menghangatkan atau memasak di rumah dengan menggunakan resep dari restoran tertentu. Banyak cara untuk bertahan.

Bahasan kami terus terbarui. Tadi ia memberi tahu sesuatu.

“Nyong, gue tadi ke McD –McDonald’s maksudnya—. Beli tiga ayam, tiga nasi kena gocap –Rp.50.000,00—,” katanya.

Saya membalas, “Buset. KFC juga kayaknya nih.”

Lalu, saya buka aplikasi Grab Food. Benar, KFC punya tawaran yang mirip-mirip; Sembilan potong ayam, harganya Rp.90.000,00. Belum termasuk biaya antar. Ternyata Texas Fried Chicken juga begitu. Harganya mirip-mirip.

Harga itu, sudah tidak masuk di akal. Pecel ayam tradisional saja sudah lebih mahal dari itu. Mungkin mereka megap-megap?

Semoga tidak bangkrut dan bikin banyak orang kehilangan pekerjaan. Semoga. (*)

Rumah, 6 April 2020
22.23

*) Foto diambil dari screenshots di aplikasi Grab Food. Foto tema dari Instagram KFC.

003: CB. Takarbessy

Obituari untuk Kristian Takarbessy dari Cozy Street Corner

Kemarin, 3 April 2020, Kristian Takarbessy meninggal dunia. Ia adalah vokalis sekaligus penulis banyak lagu trio Cozy Street Corner. Kabar itu, sampai pagi hari tadi. Postingan Boby Priambodo, teman sebandnya, di Instagram adalah moda yang dipilih semesta untuk memberitahu saya.

Saya yakin, sekarang tidak banyak orang yang mengetahui siapa itu Cozy Street Corner. Bandnya sudah tidak aktif lagi. Tapi buat saya, Cozy Street Corner adalah salah satu pilihan belajar musik berdikari yang sangat-sangat inspiratif. Trio ini –ada satu anggota lainnya, PB Adi atau Adoy, yang juga dikenal sebagai personil Bonita and the HUSband— mungkin tidak pernah sukses secara komersil. Namun, dari praktek bermusik, jelas punya sumbangsih besar untuk banyak orang.

Mereka mungkin sama sekali tidak relevan untuk orang muda di era ini. Tapi jangan salah, ada banyak orang yang disinggahi musik sederhana yang mereka punya.

Saya berkenalan pertama dengan Cozy Street Corner lewat Astrid Leoni Jonatan, teman baik saya di Kolese Gonzaga dulu. Waktu itu, kalau tidak salah tahun 2000. Kami di Kolese Gonzaga, masih kelas dua SMA. Saya menjadi ketua divisi acara Gonz Vor Aders, pensi Kolese Gonzaga –sekarang bertransformasi menjadi Gonz Fest— tahun 2000. Sejarah pensi menjadi alasan penting saya beli formulir Kolese Gonzaga dan kemudian sekolah di sana dan mengalami tiga tahun terbaik dalam hidup untuk urusan belajar jadi manusia. Waktu itu, kami punya beban untuk menyusun program yang seimbang untuk berbagai macam kepentingan.

Sesungguhnya, pengalaman itu masih membekas. Astrid, dalam sebuah obrolan pribadi, bilang, “Lix, coba deh itu band temennya kakak gue, Cozy Street Corner. Mereka punya massa anak kuliah yang lumayan kata si Babam.” Babam adalah panggilan Abraham Jonatan, juga anak Kolese Gonzaga yang kebetulan adalah teman kuliah Boby.

Saya dan Astrid punya minat yang mirip dengan musik ketika kami SMA. Dia lebih ke rock 90-an, sementara saya punya banyak ketertarikan pada scene independen yang begitu merdeka sedari awal. Saya belum pernah nonton Cozy Street Corner, tapi percaya sama omongan Astrid.

Akhirnya, Cozy Street Corner menjadi salah satu pengisi Gonz Vor Aders. Selain mereka, ada Burgerkill, Koil, Naif dan sejumlah band lainnya. Kla Project, di ujung-ujung waktu menjelang acara dimulai menarik diri karena alasan yang tidak jelas. Kami menghubungi mereka lewat orang lain dan orang lain itu menginformasikan bahwa bandnya membatalkan keikutsertaan mereka di acara kami. Pelajaran besar buat sekumpulan anak SMA, bukan?

Cozy Street Corner pun main. Sejujurnya, saya tidak menyaksikan mereka beraksi. Itulah sisi tidak menguntungkan orang yang bikin acara, sudah milih capek-capek, boro-boro bisa nonton. Hehe.

Pengalaman itu begitu saja. Tapi, ia kemudian menjadi simpul lanjutan ke pengalaman berikutnya bersama Cozy Street Corner.

Tahun 2001, saya pindah ke Bandung, sekolah di Universitas Parahyangan (Unpar). Lagi-lagi karena musik. Sekolahnya apa saja, yang penting di Bandung. Untuk anak-anak Kolese Gonzaga, pergi ke luar kota dan memulai hidup baru itu, kadang bisa lebih mudah dihadapi karena ada jaringan sesama anak Kolese Gonzaga di kota tersebut. Saya juga mengalaminya. Di sebuah sore di Ranca Bentang, saya sedang main di rumah tempat tinggal Willy Jonathan, kakak kelas yang kebetulan ketua divisi acara ospek di kampus. Dia angkatan 1998, saya angkatan 2001.

Di kampus sih, sok iye bengisnya. Giliran di rumah, ganti status jadi anak Kolese Gonzaga yang setara. Dia mengoper sebuah kaset hijau tua, milik band yang namanya Cozy Street Corner, judulnya #1. Di geng Kolese Gonzaga, Willy dipanggil Wilbib, di Unpar ia dipanggil Jonjot. Saya memanggilnya dengan panggilan yang kedua.

“Jot, ini mah main nih pas gue bikin acara di Gonz waktu itu,” ujar saya.

“Canggih tuh band. Coba elo denger,” katanya seraya tidak menggubris tapi ingin meyakinkan untuk mendengarkan musiknya.

Hari itu, kasetnya saya bawa pulang dan hidup saya berubah. Persentuhan musikal pertama saya dengan karya Cozy Street Corner ternyata begitu dalam. Di album itu, track terakhir side Bnya adalah versi yang diisi lagu Pulang (Live at Erasmus Huis 1997). Di bagian tengahnya disisipi potongan lagu Free Fallin’nya Tom Petty and the Heartbreakers. Lagu itu, berantakan karena direkam dalam format live. Saya memutarnya berulang.

Memutar musik berulang, adalah tanda gandrung dalam hidup saya. Album #1 itu heavy rotation berminggu-minggu. Di sleevenya, ada satu format yang tidak familiar yang disajikan; band ini menggunakan konsep music publishing yang diadaptasi dari hal sejenis yang merupakan praktek lazim di industri musik di luar negeri.

Jadi, di kredit akhir masing-masing lagu, selain dicantumkan nama penulisnya, mereka juga mencantumkan nama publisher musiknya. Waktu itu, PT. Aquarius Pustaka Musik. Bayangkan, mereka sudah melakukan ini sejak tahun 1999 ketika #1. Sebelumnya, saya tidak tahu bahwa PT. Aquarius Pustaka Musik juga bisa menjadi publisher musik bagi artis-artis yang bukan berasal dari label Aquarius Musikindo.

Beberapa tahun setelah kejadian kaset yang dibawa pulang (dan tidak pernah dikembalikan itu), tiba-tiba Cozy Street Corner muncul dengan kabar baru. Mereka merilis Nirmana, album baru dalam bentuk cd. Produser album itu Abang Edwin SA. Itu kalau tidak salah, tahun 2002, cd dibandrol Rp.50.000,00. Jumlah yang mahal untuk sebuah album rekaman. Saya jadi bandar acara lagi.

Di kampus Fisip Unpar, ada tradisi musik juga. Namanya Pasar Malam Kampus Tiga (PMKT). Angkatan saya kebagian menggelar tahun ketujuh di tahun 2003. Saya jadi ketua panitia. Wakilnya Dimas Ario yang kemudian jadi teman seband di Ballads of the Cliche dan sekarang jadi manajer Efek Rumah Kaca dan kerja di Spotify Indonesia. Selera musik kami juga mirip. Ketika menentukan artis yang ingin diajak main, kami tiba kembali ke nama Cozy Street Corner. Selain itu, ada Superman is Dead (yang pertama kali main di Bandung) dan Cherry Bombshell.

Kami cari uang untuk menyelenggarakannya. Karena duit dari kampus sedih, dan kurang segudang. Tapi, hasrat tidak mau kalah sama keterbatasan uang. Terobosan yang dilakukan adalah buka lapak buku di selasar kampus Fisip Unpar. Di lapak buku itu, juga dijual cd Nirmana. Kami dapat konsinyasi 25% juga kalau tidak salah.

Pelajaran nomor dua, anak kuliah tahun kedua disuruh cari duit dengan jalan jualan cd band yang akan main. Selain belajar dagang di level kampus, di level personal, ketertarikan saya pada Cozy Street Corner makin dalam lewat album Nirmana.

Referensi yang makin banyak akan pengalaman mendengarkan musik, menimbulkan daya analisa yang juga makin dalam. Album Nirmana, buat saya cult karena bisa menyajikan sisi pop yang tidak industri. Yang fokus pada cerita dan punya efek membuai begitu pekat. Tiga orang personil Cozy Street Corner masing-masing memainkan perannya dengan baik. Penulis lagu utamanya Kris dan Adoy, tapi Boby menyanyi dan memainkan melodi dengan level signature yang tidak bisa dibilang main-main.

Di Nirmana, lagu favorit saya adalah track Cinta yang panjang dan begitu elegan. Selain itu, ada lagu Katakan yang ditulis oleh Kris. Juga Kira di Dada yang dangdut. Semakin sering saya mendengarkan Nirmana, semakin sering pula saya mencari tahu aksi Cozy Street Corner.

Tapi, penampilan mereka di PMKT tidak spesial. Malah cenderung tidak enak. Saya ingat, di sebuah bagian di pinggir panggung setelah mereka turun, Kris emosi bertukar kata-kata dengan saya dan Dimas. Waktu itu, kami memotong waktu tampilnya karena acara berlangsung telat dan masih ada beberapa band yang masih akan naik panggung.

Beberapa minggu setelahnya, saya dan Dimas bertemu dengan Ribut Cahyono, manajer Cozy Street Corner. Sekedar ingin membuat keadaan lebih baik. Kami ngobrol panjang lebar di sebuah kontrakan di dekat Sekeloa di Bandung. Ngobrol ngalor-ngidul dan bertukar ide tentang pengorganisasian acara. Saya tidak tahu apa yang menempel pada Dimas pada peristiwa itu, tapi dari Ibut –panggilan Ribut— ada satu prinsip penting yang kemudian menempel pada diri saya; Kalau nggak dipanggil orang untuk main, ya bikin acara saja.

Secara kolektif, beberapa kali Cozy Street Corner membuat pertunjukan musik mereka sendiri. Nama payungnya Paparan Musikal Cozy Street Corner. Sebelum menulis tulisan ini, saya memutar memori. Rasanya, setidaknya tiga kali saya menyaksikan Paparan Musikal Cozy Street Corner ini. Semuanya di Bandung; satu di Geger Kalong, satu di Saung Mang Udjo dan yang terakhir di Selasar Soenaryo. Semuanya benar-benar berkesan karena isi pertunjukannya benar-benar fokus pada perayaan musik. Sederhana dan penuh canda-tawa.

Tiga sebaran cerita itu, sadar tidak sadar berkontribusi pada apa yang saya miliki sekarang sebagai orang musik; bahwa pergerakan menyebarluaskan karya itu lebih besar ketimbang karya itu sendiri. Kendali terus ada di tangan sendiri dan perkara berdaya atau tidak selalu bisa dimulai dari diri sendiri.

Sedikit banyak, paham itu dibentuk oleh berbagai pengalaman penting dengan Cozy Street Corner.

***

Tahun 2016, saya memberanikan diri membuka masa lalu; mengontak Cozy Street Corner untuk main lagi di gelaran Seri Bermain di Cikini yang saya buat di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki. Setelah AriReda dan Silampukau, rasanya Cozy Street Corner adalah nama yang cocok. Pakai prinsip itu tuh yang diajarkan oleh mereka; daripada menunggu mending buat saja pertunjukannya.

Perlu waktu untuk meyakinkan mereka mengiyakan tawaran saya. Tiket pun sudah mulai dijual. Tapi, apa daya, semesta tidak berpihak. Ada perubahan kebijakan yang membuat izin kuratorial tidak keluar sehingga proses jadi tidak mungkin untuk diteruskan. Saya berhutang pada Cozy Street Corner dan itu tidak menyenangkan memang akhirannya.

Bayangkan saja, diajak main lagi, sudah semangat, eh acaranya tidak jadi diselenggarakan. Saya juga tidak punya pembelaan macam-macam dan mengambil posisi bersalah. Walau tahu sebenarnya bahwa semesta memang menghalangi saja.

Kejadian itu lumayan traumatis, sehingga saya memilih untuk jauh-jauh dari ide tersebut. “Sudahlah, dikubur saja,” pikir saya dalam hati. Ada tensi yang dibiarkan tumbuh, minimal dari sisi saya. Ya, karena perasaan tidak enak itu.

Saya masih mendengarkan musik Cozy Street Corner. Lagu Pulang itu, tidak pernah bisa hilang selamanya dari dalam diri.

Ketika pagi ini mendengar kabar Kris berpulang, seluruh ingatan ini keluar tanpa perlu dipancing. Saya masih ingat gondrong keritingnya, suara melengkingnya, sepatu bootsnya, omongan berapi-apinya, candaan garingnya, bandara yang sering ia gunakan dulu dan segalanya tentang Cozy Street Corner.

Selamat jalan, Kris. Tuhan berkati. Mohon maaf karena pengalaman simpangan jalan yang kita miliki sepanjang dua puluh tahun ini, kebanyakan tidak menyenangkan ujungnya. Terima kasih untuk musik yang kau tinggalkan. (*)

Rumah, 4 April 2020
22.13

CB. Takarbessy adalah kependekan dari Christian Buana Takarbessy.

002: Raisa Ditunda

Kemarin, tanggal 2 April 2020, sebuah pesan masuk dari Boim, manajer Raisa, sekaligus pemilik Juni Records. Salah satu proyek yang saya kerjakan tahun ini adalah membuat buku dokumentasi #RaisaGBK2020. Buku dokumentasinya akan berisi catatan produksi, bukan profil tentang Raisa.

Yang menarik, proyek itu bisa dibilang berkategori mercusuar. Secara kolektif, Juni Records mengumpulkan orang-orang yang punya spesialisasi khusus di bidangnya –termasuk saya dan tim yang bekerja bersama— untuk mewujudkan ide gila bikin pertunjukan di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta. Sejarah mencatat, tidak banyak artis yang punya nyali untuk menyelenggarakan konser di stadion itu.

Kenapa? Ya sesederhana memang perlu upaya gigantis untuk bisa buat acara di situ.

Juni Records mengumpulkan banyak kolaborator dan semuanya direkrut dengan sentuhan personal; Boim dan Raisa bertemu langsung secara personal dan menyampaikan visi serta misi mereka dengan proyek itu. Kebanyakan bilang setuju ketika diajak. Ada beberapa pula yang mental dalam proses seleksi kolaborator itu.

Punya visi dan misi penting untuk menyokong ide gila ini. Karena, monumen yang sedang ingin dibangun nanti, tidak hanya akan menjadi milik Raisa. Ia akan jadi milik semua orang yang bekerja di dalamnya. Masing-masing, kemungkinan besar, akan mencapai sebuah titik baru dalam karir mereka.

Dalam koridor pribadi, mencatat produksi proyek ini, lumayan menantang. Nyaris tidak ada orang pengambil keputusan di dalam tim produksi punya pengalaman menyelenggarakan konser sejenis. Jadi, modalnya nyali. Sebaliknya, bagasi ceritanya pun cenderung aman; tidak ada pakem-pakem yang memagari. Sifat hajar bleh –tentunya dengan berbagai macam perhitungan—ada di dalamnya. Dan, sebagai seorang pencatat, itu menyenangkan sekali untuk direkam.

Nanti kapan-kapan cerita lebih detail lagi. Tapi, kembali ke telepon Boim tadi. Boim memberitahukan bahwa konser akan digeser ke Sabtu, 28 November 2020. Mundur lima bulan dari rencana awal di 21 Juni 2020. Tentu, penyebabnya ya kasus korona ini. Hari ini, 3 April 2020, rencana perubahan itu akan diumumkan pada publik. Lengkap pula dengan berbagai macam mitigasi persoalan yang mungkin muncul; yang sudah beli tiket tidak bisa nonton sehingga harus refund, jadwal tidak cocok, dll.

“Terus, ngumuminnya gimana, Im?” tanya saya merespon pemberitahuannya.

“Kita press conference online. Nggak ada Q&A. Jadi, emang pemberitahuan aja,” jawabnya.

Jadi, tadi siang, saya ada di press conference online itu. Sebuah sesi yang singkat, jelas, padat. Saya perlu mencatat fase ini. Sekaligus mengabadikannya dengan kamera yang ada di rumah. Di rencana awal buku, bagian ini tidak ada. Tapi, pasti akan nyelip nanti sebagai sebuah fase yang harus dijalani oleh proses proyek ini.

Penundaan ini, juga dengan sendirinya membuat proyek ini jadi lebih santai dikerjakan. Atau malah memberi ruang untuk pekerjaan lain masuk? Hmmm… (*)

Rumah, 3 April 2020
20.58

001: Gara-Gara Korona, Jadi Mencatat Lagi (Perkenalan)

Gara-gara korona, hidup jadi berlangsung lebih pelan. Orang-orang yang bekerja sendiri dan menjadikan rumah kantor mereka, termasuk saya, mengalami banyak ancaman yang membuat khawatir; kehilangan pekerjaan karena resesi mendadak.

Resesi mendadak ini, jadi efek yang tidak diperhitungkan sebelumnya. Ada banyak sektor ekonomi yang ternyata tidak punya jaring pengaman kuat di Indonesia. Dunia hiburan, tiba-tiba berhenti. Tanpa aba-aba, tanpa ada intro sebelumnya. Otomatis juga, orang-orang yang penghasilannya lepasan, sekali lagi termasuk saya, ya dipaksa ngerem juga.

Pancaroba masif, ada di depan mata.

Lalu, harus bagaimana? Ini sebenarnya intro, tidak ingin berpanjang-panjang. Jadi, saya memilih untuk kembali ke akar dengan menulis serta kemudian menjadikannya ajang penghiburan. Hal ini, sudah lama sekali tidak dilakukan. Ia teman lama yang sudah diabaikan. Sekarang, dipanggil kembali.

Hitung-hitung, ini sesuatu yang bisa diteruskan ke orang banyak sebagai pengingat. Jurnal ini pribadi, tapi bisa jadi mirip sama cerita banyak orang di luar sana.

Manusia tidak sendiri. Manusia adalah bagian dari sebuah sistem besar. Jadi, bergeraklah, temukan caramu membunuh waktu ketika harus memelankan semesta.

Saya akan menulis setiap hari. Khusus di section ini; http://www.bit.ly/felixmencatatkorona. Isinya apa? Kita lihat saja. Juga, berapa lama ini berlangsung, bergantung pada usia krisis ini. Semoga tidak panjang. Tapi toh, panjang juga tidak ada pilihan lain selain menghadapinya. Selamat membaca. Semoga kamu yang mampir ke sini, juga membuat catatan versimu sendiri. (*)

Rumah, 2 April 2020
22.58 WIB

Mendengarkan Menari dengan Bayangan Pertama Kali

Untuk album penuh terbaik 2019, versi saya.

Senin, 25 November 2019, saya diundang menghadiri hearing session Menari dengan Bayangan, debut album penuh Hindia yang akan dirilis beberapa hari setelah malam itu; tengah malam 29 November 2019. Lokasinya di Occupied 22, ruang terbuka yang akan dioperasikan oleh Suneater Coven, perusahaan konten yang menaungi Hindia, Feast dan sejumlah nama lainnya.

Suneater Coven, Hindia dan Feast adalah gerbong baru di industri musik Indonesia. Beberapa orang di dalamnya, dalam beberapa kesempatan, bilang bahwa format paling mudah untuk mendeskripsikan modus operandi itu adalah perusahaan konten. Musik adalah medium. Coba telaah lebih dalam pembeda itu, untuk bisa mengerti lebih dalam cara operasi mereka yang terus menerus menghasilkan karya baru seolah tidak pernah lelah.

Setelah disclaimer itu, mari spesifik membahas apa yang sedang coba dilakukan Hindia.

Hindia adalah Daniel Baskara Putra, juga dikenal sebagai vokalis dan penulis lirik utama Feast. Bertalian, tapi toh moniker Hindia punya arah musik yang berbeda ketimbang bandnya. Kendati begitu, mau tidak mau, publik tetap bisa menarik garis yang senada antara Feast dan Hindia; bahwa mereka sedang ada di atas angin dan menerima banyak cercaan yang seliweran dengan penuh energi, terutama di medan laga bernama media sosial.

Cercaan pada mereka yang sedang di atas angin, bukanlah hal yang baru. Bisa jadi, saya dan kamu yang sedang membaca tulisan ini, juga sering terlibat di dalamnya. Tidak spesifik tentang Feast dan Hindia, tapi tentang banyak hal yang lain. Baik itu dilakukan, atau terlakukan. Tanpa sadar, atau malah sadar. Dasarnya kemungkinan bisa dua, yang pertama punya perasaan skeptis yang besar karena satu dan lain hal, yang kedua karena tidak suka melihat orang mendapatkan banyak perhatian (atau sukses/ jadi omongan karena karyanya berbicara secara luas) saja.

Faktanya tumbuh subur. Mungkin malah tidak akan mereda beberapa bulan ke depan. Ini prediksi, yang rasanya akan kejadian. Ia jadi makin kuat ketika melihat apa yang terjadi hari Senin kemarin di Occupied 22. Saya diundang untuk datang malam hari, pukul 19.30. Ada kurang lebih lima puluh orang lain yang hadir. Komposisinya beragam; generasi pelaku musik yang usianya di atas Hindia –saya termasuk di dalamnya—, teman-teman dekat, penggemar, kolega di scene, hingga temannya teman yang bisa jadi colongan masuk. Agenda yang sama-sama dijalani adalah mendengarkan album Menari dengan Bayangan untuk pertama kali bersama-sama, dari depan sampai belakang.

Hearing session kali itu, bukan yang pertama. Juga bukan hal baru di industri musik. Berdasarkan instastory yang seliweran, di bagian lain Senin kemarin, orang-orang media juga sudah melakukannya terlebih dulu di sesi sebelumnya. Di industri musik yang berlatar korporasi mapan–saya tidak mau menyebut industri besar, karena bisa jadi sekarang di Indonesia yang besar itu indieshit semua—, hearing session adalah hal yang lazim dilakukan, untuk memberi teaser pada orang-orang tertentu. Prinsipnya sama dengan press screening di industri film. Tapi, dengan pola industri musik yang sekarang, yang cenderung tidak bisa ditebak, pertanyaan pertama di kepala ketika undangan datang adalah, “Memang hearing session dalam bentuk album penuh yang akan diputar dari depan sampai masih punya daya tarik ya?”

Saya berkaca pada diri sendiri. Sudah tidak banyak kesempatan yang memberi kekuatan untuk mendengarkan sebuah album dari depan sampai belakang. Pilihan makin banyak. Kita bergeser ke mode playlist yang diadaptasi dari rekomendasi dan pola berbagi. Saya saja yang punya logika mendengarkan musik dari generasi sebelumnya mengalami itu, bagaimana mereka-mereka yang sedang jadi pasar utama musik hari ini?

By default, kata kasak-kusuk sejumlah praktisi industri, sekarang orang mendengarkan musik dan menemukan lagu-lagu baru lewat playlist. Tantangannya bukan lagi merilis album penuh sebaiknya, tapi jadi merilis lagu terbaiknya. Itu juga baru kasak-kusuk statusnya. Masih belum bisa dilegitimasi dengan jelas dan dijadikan pegangan dagang. Harap maklum, sekarang itu pancaroba yang penuh anomali. Siapapun bisa menulis pattern mereka sendiri.

Jadi, hearing session album berguna atau tidak?

Saya berangkat dari pandangan yang tidak jernih; saya penggemar Hindia. Jadi, sudah pasti tidak menolak datang ketika diundang. Berguna sekali, dalam kasus saya. Menari dengan Bayangan berisi lima belas lagu. Running timenya 56 menit. “No nego, gan,” katanya ketika saya tanya.

Tadi malam, Baskara memulainya dengan kata pengantar. Lalu mengakhirinya dengan, “Teman-teman, minta tolong jangan direkam ya.” Dan kemudian, semua orang di ruangan itu, bisa menghormatinya. Ponsel disimpan dengan kamera menghadap bawah. Paling hanya digunakan untuk browsing Instagram atau balas pesan kalau bosan. Tapi, secara umum, semuanya intens mendengarkan Menari dengan Bayangan.

Di layar, potongan lirik disajikan. Di lagu-lagu yang familiar karena sudah dirilis lebih dulu, orang tidak bisa ditahan untuk ikut bersenandung. Bayangkan, bersenandung bersama dengan volume yang bisa dirasakan semua orang hanya melihat tembok yang ditembak video. Canggih kan?

Pengalaman mendengarkan pertama kali debut album penuh ini begitu menyenangkan. Albumnya bagus. Tapi, nantilah ke sananya. Buat saya, hal paling menarik adalah bagaimana geng Suneater Coven ini mencampuradukkan pengalaman nyata dengan karya yang bisa dirasakan indera. Alias, interaksi langsung. Padahal, biasanya medan laga mereka kebanyakan media sosial yang maya.

Saya selalu tergelitik melihat tingkah polah mereka. Perjalanan Suneater Coven dimulai dengan sebuah kanvas polos yang bisa diisi apapun. Prinsip itu bisa dirasakan sejak mereka mulai berjalan. Layaknya orang yang baru berjalan, kadang rasa yang ditimbulkan orang bisa macam-macam efeknya; bagus, jelek, too much, garing, dll.

Feast dan Hindia adalah gerbong utama yang mengerek talenta lain. Jadi, wajah perusahaan konten ini, adalah mereka. Feast dan Hindia, juga penuh dengan gimmick. Kebanyakan keren. Kebanyakan revolusioner di scene. Tapi, tidak semua adalah Feast dan Hindia. Itu juga terasa di Suneater Coven. Kualitas talentanya masih tidak sama. Dan itu wajar, namanya pedagang, masa semua barang dagangannya jagoan? Tidak semuanya juga pandai memainkan gimmick yang mereka lahirkan.

Saya termasuk orang yang tadinya anti dengan gimmick. Saya puritan, kalau mau jadi musisi ya dagangnya musik; Karya, lagu, merchandise, dll. Bukan gimmick. Tapi kemudian, zaman kan menuntut sesuatu yang menyegarkan. Arus informasi bergerak makin kencang. Apapun bisa diakses dengan mudah sekarang, dari mana saja dan kapan saja. Adaptasi, plagiasi, peniruan, penipuan dan hal-hal negatif lain bisa dengan mudah terjadi segampang membalik telapak tangan.

Tuntutan untuk sesuatu yang menyegarkan itu terus menerus ada. Dan di sanalah akhirnya gimmick diperlukan. Ide itu, tidak perlu baru. Yang jelas, ia bisa mengakomodir pesan yang ingin disampaikan. Di sanalah saya belajar dari Feast dan Hindia yang piawai memainkannya.

Kesampingkan dulu Feast. Saya juga suka, tapi secara spesifik merasa mereka too much di debut album yang isinya kolaborasi semua itu. Era Beberapa Orang Memaafkan ke sini, joss!

(Ini bagian yang mulai menyinggung isi Menari dengan Bayangan)

Pelajaran penting dari Hindia adalah setia pada pesan yang ingin disampaikan lewat karya. Baskara mungkin bisa bilang secara terbuka bahwa debut album penuh ini adalah kompilasi cerita hidupnya sejak lahir hingga sekarang. Ia direkam dengan format yang begitu beragam, tidak ada yang baru. Bisa jadi, ia mengadaptasi banyak hal dari referensi-referensi yang disantap.

Ini mau diartikan sebagai, “Ah, lagu ini mirip itu. Lagu ini mirip ini,” silakan saja. Buat saya, ada sesuatu yang lebih besar dari sekedar format. Toh, kita sama-sama tahu, orisinalitas sudah lama mati. Kalau kamu berhenti di tahap format dan tidak mau lanjut ke dalam, silakan. Tapi, mungkin kamu akan kehilangan sisi lain Hindia yang brilliant. Tenang, itu masih pilihan kok sifatnya. Jadi, silakan saja ditentukan mau seperti apa. Jika sekarang misuh-misuh tentang format tapi di kemudian hari mendengarkannya mendalam, juga bebas.

Kalau disuruh memilih yang paling penting, album ini adalah sebuah kesatuan yang jantungnya cerita. Ia, secara komplit menuliskan perjalanan orang biasa yang direkam dengan kacamata persoalan. Dan kemudian jadi tidak baik-baik saja, tidak ideal, tapi mengisahkan seorang yang mampu bertarung dengan berbagai macam cara yang ditempuhnya.

Gut feeling ketika mendengarkan materi Taifunnya Barasuara pertama kali dulu, muncul. Sekedar informasi, dalam ranah personal, ia tidak sering-sering muncul. Rasanya sepanjang scene indieshit ini ada, tidak lebih dari sepuluh kali perasaan begini muncul. Semuanya benar, album-album yang disambangi perasaan ini, semuanya jadi legenda dan acuan. Untuk menyebut beberapa: Mocca – My Diary, Efek Rumah Kaca – Self Titled, Seringai – Serigala Militia dan itu, Barasuara – Taifun.

Jadi, saya juga bersyukur ketika Baskara bilang, “Nggak tahu kapan lagi bikin album Hindia. Mungkin lima belas tahun lagi ketika sudah punya anak.” Cerita-cerita seperti ini tidak bisa dipaksakan untuk hadir. Memang, agak kontras dengan tuntutan modus operandi Suneater Coven. Untung ada kesadaran, bahwa penciptaan materi dari kisah-kisah personal yang sifatnya memoar ini, memang kondisi yang harus dilindungi, yang tidak bisa dipaksakan. Jika ia dipaksakan, hasilnya kemungkinan besar butut. Bisa sukses, tapi kopong makna. Bisa penuh makna, tapi juga tidak ke mana-mana karena dipaksa untuk dijalankan.

Lagu-lagu yang sudah dirilis bisa memberikan gambaran betapa dahsyatnya album ini. Cerita-cerita di dalamnya bisa berdiri sendiri, tapi juga bisa membentuk legiun yang bagus ketika dijejerkan untuk didengar secara beruntun. Cobalah telaah liriknya mendalam. Sangat mungkin untuk pendengar menjadi begitu terkait dengannya, karena memang kisahnya ditulis oleh orang biasa dan berisi tentang persoalan-persoalan biasa yang memang mampir sehari-hari ke hidup kita.

Ada banyak pengulangan, tanda ia tidak sempurna secara format. Tapi, toh semuanya masuk dalam konteks masing-masing karya. Tapi, toh Baskara juga masih anak kemarin sore untuk urusan durasi karir kalau bicara status musisi profesional. Jalannya masih panjang. Sejarah juga dengan terang mencatat bahwa kedewasaan dan kemapanan itu merupakan sesuatu yang didapat seiring perjalanan. Prosesnya tidak instan dan memang tidak perlu dikejar. Ia datang pada saat yang direstui oleh semesta.

Dan ketika ada banyak orang yang suka, berarti penerimaan akannya baik. Ketika diulang, malah jadi dahsyat, berarti beragam materi itu dapat afirmasi yang sama. Jika sudah bagus dan bisa diulang, apalagi yang perlu digugat darinya?

Malam tadi menyenangkan. Sebuah pengalaman yang mengingatkan bahwa pilihan harus diperjuangkan dan jalan selalu terbentang luas untuk mereka yang berani mencoba. Much love buat Menari dengan Bayangan. Cerita tentang pengalaman itu, mungkin akan saya ulang berkali-kali ke orang lain, jadi pertanda penting bahwa ia memang segitu mengesankannya.

Kalau kamu yang membaca tulisan ini ingin mencuri ide dan mengaplikasikannya dalam karir musikmu, coba berpikir lebih panjang dan menyelami prosesnya. Jangan cuma mengambil fakta bahwa album ini akan laris manis tanjung kimpul dan Baskara jadi jutawan –mungkin akan jadi milyarder—. Kalau cuma sepotek mengambilnya, mungkin kamu akan jadi orang yang trying too much. Dan itu biasanya, butut. Ups. (pelukislangit)


Jakarta, 26 November 2019

Value, The Other Festival, Holaspica, The Bedroom Gigs, Lalala

Di dalam sebuah kotbah minggu, ada sesuatu yang menempel. Gereja mengingatkan saya (dan jemaat yang lain yang hadir di situ) untuk berkarya di bidang apapun dengan value. Sesuatu yang digenggam di dalam kepala adalah jangkar yang membuat banyak hal yang terjadi. Pengingatan itu kemudian menjelma menjadi refleksi, akan apa yang terjadi di akhir tahun ini.

Sejak bekerja mandiri mulai Agustus 2015, rasanya akhir tahun ini jadi yang paling padat untuk kehidupan pribadi saya. Sebelumnya, akhir tahun adalah waktu yang enak untuk liburan, memandang ke belakang atas apa yang telah terjadi. Sedikit mengambil jeda dari kehidupan yang riuh. Dan tentunya berpikir apa yang harus dilakukan di masa yang akan datang. Semuanya dipicu oleh rejeki yang biasanya sepi.

Meninggalkan gaji bulanan di korporat adalah tentang mengubah cara pikir kita terhadap keadaan. Saya beruntung sudah fasih bernapas di alam yang baru. Tidak lagi biasa memandang bahwa rejeki akan datang teratur setiap bulan, tapi bisa jadi datang dalam jumlah banyak di satu bagian lalu kemudian akan sepi di bagian berikutnya. Kalau dirata-rata, ya tetap stabil. Lalu, di situlah bagian di mana paham kepercayaan bahwa rejeki tidak lari ke mana berlaku. Kemungkinannya bertalian begitu.

Wah, agak melantur ceritanya. Jadi, begini. Malam ini, tepat sebelum tulisan ini dibuat, saya jadi terpikir sesuatu tentang nilai itu. Semuanya dipicu oleh proyek The Other Festival yang melibatkan saya lewat Siasat Partikelir. Siasat Partikelir (dan juga British Council di bagian lain), meminta saya untuk berkontribusi menentukan sejumlah talenta yang akan main di The Other Festival. Festival ini, menjalankan tahun debutnya di Hotel Monopoli di Kemang, sebuah hotel gaya eropa dengan beberapa potensi venue di dalamnya.

Saya menggarap dua buah meeting room yang akan disulap. Juga diberikan beberapa slot untuk menampilkan band dengan bendera Future Folk (ngomong-ngomong, Future Folk pertama kali digunakan dan tidak Seri Bermain di Cikini, saya yang memilih). Proses yang datang cepat, untungnya menemukan ide yang lumayan ciamik. Di dua kemungkinan itu, saya ternyata mencoba menerapkan value yang dipegang erat di dalam kepala; Membuat sesuatu yang bisa menjadi alasan untuk didatangi orang serta kemudian melibatkan nama-nama baru yang sebelumnya tidak banyak diketahui orang.

Value terakhir, tanpa disadari terus bergulir sejak pertama kali bereksperimen dengan Silampukau tahun 2015 yang lalu. Mengajak orang-orang yang tidak sering bermain di kota sendiri, adalah upaya untuk memperkaya khasanah. Daripada harus ke luar kota untuk jauh-jauh menyaksikan mereka, kenapa tidak buat di kota sendiri? Tentu, idenya tidak sesederhana itu ketika diimplementasikan. Terutama berkaitan dengan logistik.

Tapi toh, proses bergulirnya seperti itu. Di setiap kesempatan, rasanya saya selalu punya keinginan mempraktekkan protokol untuk membawa band dari luar kota main di Jakarta. Kebanyakan diawali alasan untuk ingin menyaksikan mereka main dan kemudian merekamnya dengan memori. Lalu kemudian, bisa diartikan sebagai proses menyebarluaskan musik-musik bagus untuk publik kota sendiri.

(Waktu itu) saya seperti berpikir bahwa Jakarta itu membosankan. Sekarang sih, sudah mulai terkikis pikiran itu. Tapi, ada masa-masa di mana Jakarta jadi kota yang monoton. Yang menarik itu-itu saja dan jalur jalannya begitu-begitu saja. Api yang dulu ada di kota ini, seolah pergi seiring dengan betapa mudahnya hidup (kalau dibandingkan dengan kota lain) bermusik di Jakarta; pertunjukan sempat ada tiap hari dalam seminggu, acara-acara makin besar, yang cari makan lupa memikirkan kualitas variasi line up dengan main aman mengundang yang itu-itu saja dan beberapa hal lainnya yang rasanya enak kalau dibahas dengan adegan ngobrol melihat mata.

Ada tiga nama yang pelan-pelan mengikis pandangan; Rayssa Dynta, Glaskaca dan Feast. Mereka mengembalikan fakta bahwa Jakarta itu menyenangkan.

Karena sempat berpikir bahwa Jakarta itu membosankan, jadilah interaksi saya banyak terjadi dengan orang-orang di luar kota ini. Melihat ke luar adalah melihat kemungkinan baru. Dari sana bertemu dengan Sungai, jadi intens dengan Sisir Tanah dan Iksan Skuter (dan Jason Ranti, tentunya), kenalan dengan Murphy Radio dan Semiotika, menyaksikan sekaligus menemukan tempat paling cocok melihat Soloensis main, Manjakani, Sandrayati Fay, Nostress Jon Kastella, Putra Timur dan masih banyak nama lain.

Yang paling baru, saya coba ‘karyakan’ di The Other Festival tahun ini. Jadi, ceritanya saya punya slot manggung yang harus diisi. Belum tahu siapa, tapi proses mencari dilakukan selama beberapa hari hingga pandangan masuk ke sebuah memori lama yang pada akhirnya berhasil disambungkan kembali; Holaspica.

Kami –saya dan Holaspica— sadar tidak sadar, beririsan pertama kali di Folk Music Festival 2018. Di festival itu, tahun ini, saya tidak menghabiskan banyak waktu karena di saat yang bersamaan harus ada di Jakarta menjadi tandem yang suportif –baca: pembantu umum— untuk partner saya yang pameran tunggal di sebuah art bazaar. Saya tidak sempat menyaksikan Holaspica bermain. Tapi, track yang dia submit untuk kontes Gang of Folk, sempat disodorkan oleh Alek Kowalski, bandar Folk Music Festival, ke saya. Bersama dengan Terminal Kuningan dari Medan, Holaspica mencuri perhatian.

Saya mencoba membuka kontak. Dan gayung bersambut. Saya menawarinya untuk mengisi slot yang saya punya bersama Iksan Skuter dan Adrian Yunan. Waktu cocok, ia bersedia untuk main. Bagus!

Holaspica berasal dari Bandar Lampung, ibukota propinsi begal, Lampung. Tahun 2018 ini, ia merilis sebuah mini album berjudul Naik ke Laut. Dan kemudian, punya pengalaman untuk berkeliling mempromosikan musik; sendirian, modal nekat dan menambah jam terbang main live memperkenalkan musik yang ia tulis.

Latar belakangnya seru. Dan mari kita coba. Semoga tulisan ini tidak membuat bebannya bertambah. Haha.

Holaspica akan bermain di hari Minggu, 4 November 2018 di Panggung Bloom pukul 18.00, tepat sebelum Iksan Skuter dan Adrian Yunan. Di festival dengan banyak sekali penampil itu, ia merupakan salah satu yang harus saya saksikan.

Tiketnya, pada saat tulisan ini dirilis, mungkin tidak lagi banyak. Tapi, tenang. Beberapa hari yang lalu, ia mengabari bahwa sehari sebelum pertunjukan di The Other Festival, ia akan bermain di Kiosojokeos asuhan Geng Efek Rumah Kacaw. Ia sempat menanyakan apakah saya keberatan jika ia main sebelum pertunjukan yang saya mainkan. Tentu saja, tidak. Dalam kasus ini, membuatnya bertemu semakin banyak orang, adalah kontribusi yang bisa dilakukan. Musiknya perlu didengar oleh sebanyak mungkin orang.

Jadi, kalau tidak dapat tiket The Other Festival, ada baiknya mengalokasikan waktu untuk datang ke Kiosojokeos di Ruko Bona Indah. Holaspica harus ditonton!

Ngomong-ngomong, di The Other Festival, saya juga akan mencoba sebuah inisiatif baru. Namanya The Bedroom Gigs. Inisiatif ini idenya datang dari hadiah ulang tahun saya dari si partner. Ia memberikan buku yang kemudian menjadi dasar terjadinya The Bedroom Gigs. Judulnya Your Song Changed My Life karya Bob Boilen.

Bob Boilen adalah seorang penyiar NPR, sesinya All Songs Considered, dikenal luas sebagai salah satu program dokumenter musik yang super ok.

Di buku ini, Boilen mewawancarai banyak pelaku musik dan membawa mereka ke era awal ketertarikan mereka pada musik. Banyak kisah ajaib di dalamnya dan rasanya lucu juga ya kalau diterjemahkan ke ranah musik lokal. Rasanya ada banyak musisi yang menarik yang bisa diajak untuk bercerita.

Di The Bedroom Gigs, saya mencabut banyak musisi dari band mereka dan memaksa orang-orang yang menarik itu untuk memainkan influence mereka dan bercerita untuk penonton. Kapasitas pertunjukannya akan jadi sangat intim, tidak banyak yang bisa menonton. Mungkin hanya sekitar 40-50 orang di dalam ruangan yang telah disulap itu.

Saya meminta Ruth Marbun tersayang untuk ikut bertanggung jawab karena telah memberikan buku itu dan kemudian memicu inspirasi. Ia akan merancang dekorasi ruangan yang bisa dialami nanti. Ruangan meeting yang kaku kayak kanebo kering akan kami ubah jadi kamar tidur. Memang, ide besarnya lebih baik disebar dari sekarang. Ada banyak detail yang kami simpan jadi kejutan.

The Other Festival, tiketnya gratis. Bisa diakses di http://www.bit.ly/theotherfestival. Yang hari Minggu, sepertinya tidak banyak lagi tersedia. Langsung dicek saja begitu baca tulisan ini.

Fokus The Bedroom Gigs adalah perekaman. Jadi, kami akan merekam seluruh pertunjukan itu. Juga sesi bincang-bincang yang saya buat sehari sebelumnya. Senang juga kalau dipikir dikasih kesempatan main-main.

Nah, yang terakhir ini, ada sesi bincang-bincang. Saya akan berbincang, merekam podcast dengan empat topik berbeda. Detailnya ada di bawah:

Kejadiannya hari Sabtu. Sesi dengan Ruth Marbun akan membahas bagaimana musik dan visual bisa saling memengaruhi. Sebenarnya, ini nepotisme. Jadi, saya memang selalu ingin mewawancarai dia dan interpretasi-interpretasi ajaibnya pada musik. Dihajar saja mumpung ada kesempatan.

Lalu, akan ada sesi dengan Joe Million yang khusus datang dari Sukabumi untuk berbincang-bincang tentang militansinya main musik. Juga ada sesi dengan Holaspica dan Pijar, band perantauan asal Medan. Kami akan membahas bagaimana mereka melihat Jakarta dan apa kegunaan menembus pasar ini. Yang terakhir, saya mengundang Akbar dan Asra dari Kiosojokeos untuk membahas bagaimana ruang alternatif bisa diinisiasi oleh sebuah kolektif yang punya basis massa baik.

Okeh, begitulah. Akan ada tiga babak yang saya mainkan di The Other Festival. Semoga kita berjumpa. Semoga juga, semua ide di kepala jadi kenyataan. (pelukislangit)

Rumah Benhil
2 November 2018
01.18

Selesai dengan Soundquarium dan Youniverse

Ada awal, ada akhir. Dan dua ujung itu menyebalkan sekali kalau sudah terjadi dan jadi sesuatu yang sifatnya komplit. Dua puluh tujuh bulan bersama berakhir hitungannya pada 31 Juli 2018 kemarin. Ada banyak yang direkam, ada banyak yang dicatat. Tapi intinya, kisah bersama Soundquarium berakhir.

Dua peran yang saya jalani selama ini, sebagai konsultan dan produsen konten, selesai. Soundquarium –katanya— masih berjalan. Nahkodanya ganti. Rumahnya masih di Qubicle, tapi ke depannya akan langsung dikendalikan oleh si pemilik. Sebelumnya, ada Youniverse, perusahan yang mengelola isinya.

Kerjasama ini selesai karena arah bisnis yang berubah. Ketika diberitahu beberapa bulan yang lalu, seharusnya jadi siap. Tapi, yang namanya perpisahan, siapa sih yang bisa sepenuh-penuhnya siap?

Kembali melihat apa yang telah terjadi adalah sebuah perkara yang tidak kelar semalam. Saya mengenang kembali berbagai macam upaya merekam yang jadi dasar kerja tim ini. Kami –saya dan Tim Youniverse yang dikomandani oleh Dita Indah Nurmasari— bekerja dari sebuah titik tolak mencari tahu yang awalnya sedikit kabur.

Saya punya kemampuan memahami musik karena telah bermain di wilayah ini bertahun-tahun dan Tim Youniverse punya kemampuan teknis yang standarnya ala produksi televisi. Jadi, masing-masing dari kami punya kekuatan. Ketika itu disatukan, rasanya enak. Apalagi setelah dijalani, masing-masing orang di dalam tim kerja ini bisa mengembangkan hubungan dari sekedar kolega bisnis jadi teman personal yang ok diajak untuk tukar pikiran dan makan banyak. Intermezzo, kebanyakan dari kami punya perut buncit yang menandai hobi makan itu.

Lalu, yang juga jadi perekat adalah obyektif yang sama: Untuk mendokumentasikan sebuah pergerakkan masif yang terjadi di sebuah era. Tentu saja, masing-masing dari kami cari makan. Tapi, menyenangkan mengetahui dan menghidupi ide untuk mendokumentasikan itu sedari awal. Jadi, ketika dijalani proses cari makannya, hitungannya tetap bahagia karena punya tujuan yang lebih besar ketimbang sekedar bekerja dan memenuhi kebutuhan.

Bekerja dengan obyektif yang terasa sama dan dengan cara kerja yang riang, ternyata membuat waktu berjalan cepat. Di dalam perjalanannya, ada hal-hal yang harus kami lakukan walaupun tidak suka. Yang disukai, lebih banyak lagi.

Hal mewah yang dirasakan sepanjang durasi kerjasama itu adalah ruang untuk bisa bereksperimen membuat banyak hal jadi nyata. Soundquarium via Youniverse mendukung beberapa seri garapan Seri Bermain di Cikini yang saya jalankan. Selain ada dukungan finansial, juga ada dukungan perekaman gambar. Arsip berhasil dibuat.

Lalu, ruang untuk menulis banyak tentang band-band dan banyak peristiwa menyenangkan secara mendalam juga tersedia. Di semesta pribadi, itu membuat saya mengulik banyak sekali hal-hal baru dan dengan sendirinya menuntun untuk melihat pergerakan yang ada di luar generasi, milik mereka yang baru memulai karir. Itu harus disyukuri.

Untuk orang yang sudah berkiprah di urusan tulis-menulis selama lebih dari lima belas tahun, tetap punya akses informasi pada mereka yang baru memulai karir adalah suatu keuntungan yang tidak terkira nilainya. Apalagi jika masih diberi ruang untuk menyimak pergerakan pelan-pelan dan belajar menangkap gejala-gejala baru. Proses ini membuat saya tidak jadi orang lama sok tahu yang merasa paling sip tapi sebenarnya tidak relevan dari segi kegunaan. Haha.

Soundquarium dan teman-teman di Youniverse membuat saya punya kebebasan model begitu. Sepanjang waktu yang disebutkan di atas, saya menulis secara reguler selama dua puluh tiga bulan. Total ada dua ratus enam puluh artikel yang ditayangkan. Sekitar 90%, saya yang menulis. Jadi super produktif kan untuk hitungan waktu yang tidak sampai tiga tahun?

Soundquarium membuat saya jalan di jalur yang benar, sesuatu yang diinginkan sejak keluar dari kehidupan korporat dan berusaha sekuat tenaga mendedikasikan diri di musik. Kalau diingat, jalannya tidak mudah. Goyangan kiri-kanan banyaknya minta ampun; mulai dari ide yang kesalip karena tetangga jalan di luar jalur, rebutan akses, dipandang sebelah mata karena politik tetangga dan beberapa hal lain yang kalau diingat jadinya malah bikin ketawa sendiri.

Bukan apa, tapi kocak jadinya. Salah satu hal yang membuat saya berhenti kerja korporat adalah keluar dari politik kantor yang capedeh. Yang bermain politik gontok-gontokan, yang menang tetap perusahaan. Yang bermain politik bikin segala macam pertikaian, yang jaya perusahaan. Nah, sempat juga mampir sejumlah peristiwa politik, untungnya kami setia pada tujuan. Riak-riak kecil, okelah ditelan. Yang terpenting, bisa tetap di jalur dan berkarya.

Diomongin jelek, sudah biasa. Dianggap sebelah mata, toh kami yang tertawa di ujung cerita. Duh, jadinya emosional.

Kehilangan tidak pernah mudah. Kendati ia sudah dipersiapkan untuk ada sebelumnya. Perkara tiada, memang melengkapi sebuah proses. Tapi toh, tidak enteng untuk bisa keluar dari kedukaan yang ditimbulkan.

Tadi sore, tepat sebelum tulisan ini mulai dikerjakan, saya mampir ke kantor Youniverse untuk menandatangani urusan administrasi yang akan segera diselesaikan. Saya duduk bertiga bersama Vany Mitahapsari dan Andri Setianto –dua orang yang ada sejak awal bersama dengan Dita yang namanya disebut di awal tadi—. Setelah proses tandatangan selesai, kami ngobrol ngalor-ngidul. Kedua teman ini, nampak kalah. Mereka kehilangan bayi yang mereka lahirkan dan besarkan. Pemandangannya tidak enak. Tapi mau bagaimana lagi? Toh, keputusannya di luar tangan kami masing-masing.

Perjalanan diteruskan. Soundquarium dan Youniverse menjadi persinggahan yang menyenangkan. Karena urusan administrasi, tulisan-tulisan yang saya produksi selama kurun waktu itu, belum bisa dikumpulkan dan diterbitkan. Tinggal tunggu waktu saja sih, kata firasat di dalam diri.

Materinya aman, terdokumentasi dengan baik. Hanya perlu perubahan format saja jika kemudian nanti dibukukan. Ada niat besar untuk membuat kumpulan tulisan berjudul The Soundquarium Years.

Semoga terjadi. Cerita terus bergulir. Kehilangan dua hal penting dalam hidup dalam dua bulan berturut-turut sungguh tidak mudah; Juni saya kehilangan AriReda, di Juli, Soundquarium. 2018, adalah tahun yang tidak mudah.

Walau, banyak inisiatif baru juga menemukan jalannya untuk lahir dan jadi karya.

Ada awal, ada akhir. Terima kasih banyak Soundquarium dan Youniverse untuk potongan perjalanan yang menyenangkan dan membanggakan. (pelukislangit)

1 Agustus 2018
20.56
The Goods Cafe, Pacific Place
Citilink jalan ke Malang
Foto diambil oleh beberapa orang anggota tim